The Director of SDGs Center Unpad became a speaker at the 69th Sesparlu Training with the theme “Enhancing Leadership and Strategic Competence for Effective Diplomacy in the 4.0 Era”
Wakil Menteri Luar Negeri secara resmi membuka acara Diklat Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri (Sesparlu) Angkatan ke-69 yang berlangsung sejak tanggal 20 September 2021 sampai minggu pertama bulan Desember 2021. Tema acara ini adalah ‘Enhancing Leadership and Strategic Competence for Effective Diplomacy in the 4.0 Era’. Tujuan pelaksanaan acara ini adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam terkait perkembangan isu-isu ekonomi yang menjadi bagian dari modul Strategic Diplomacy yang dimiliki oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI).
Prof. Zuzy Anna selaku Direktur SDGs Center Unpad menjadi narasumber pada tanggal 13 Oktober 2021. Beliau secara khusus memaparkan materi terkait ‘Post Covid-19 Economic Recovery: Indonesia’s Potentials of Green and Blue Economy’. Pemaparan diawali dengan penjelasan secara singkat terkait Sustainable Development Goals (SDGs) secara umum. Lalu dilanjutkan dengan sejarah dan transisi dari Millenium Development Goals (MDGs) menjadi SDGs yang dikenal saat ini.
Akibat pandemi Covid-19, upaya yang dilakukan sebagai bentuk perbaikan ekonomi pasca Covid-19 setidak-tidaknya harus menyentuh 4 dari 17 tujuan SDGs, antara lain Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim), Tujuan 14 (Ekosistem Lautan), dan Tujuan 15 (Ekosistem Daratan). Selain itu, diperlukan adanya penguatan kepada seluruh pihak, termasuk pihak bisnis dan komunitas untuk memprioritaskan alokasi dana selama masa perbaikan ekonomi pasca Covid-19.
Dalam rangka mewujudkan Green Economy , maka diperlukan adanya sistem ekonomi yang mengalokasikan sumber daya secara optimal dalam konteks lokal, nasional, dan global. Langkah tersebut dapat dilakukan dengan menjadikan harga pasar sebagai tanda atau signal untuk mengalokasikan sumber daya.
Sedangkan Blue Economy merupakan sebuah konsep pengembangan yang menekankan pada efisiensi sumber daya, internalisasi biaya eksternal, pengurangan jumlah kemiskinan, dan penciptaan pekerjaan yang layak. Konsep tersebut dikembangkan dengan mengaplikasikan ekonomi yang rendah karbon, keanekaragaman hayati, dan layanan lingkungan.
Beliau menjelaskan bahwa istilah Blue Economy menjadi keberlanjutan yang efisien dalam perikanan dimana terjadi perkembangan di dunia perikanan yang sesuai dengan kapasitas dengan penurunan kerugian mencapai 50 miliar US$. Selain itu, terjadi penurunan jejak karbon dari sektor perikanan melalui kontrol kapasitas, dan adanya pemanfaatan alat tangkap yang ramah lingkungan dan berteknologi rendah karbon.
Maka dari itu, adanya istilah Blue Economy dalam pendayagunaan keanekaragaman hayati laut dapat menjadi inovasi bagi ekowisata dalam menyediakan pekerjaan baru, kesempatan ekonomi yang baru, dan pemeliharaan lingkungan terutama lingkungan lautan.
