FeaturedNews

Director of SDGs Center Unpad became a Speaker at Training of Trainers (ToT) SDGs at Universitas Negeri Gorontalo

Kegiatan Training of Trainer (ToT) dilaksanakan selama 3 hari yang bertempat di Hotel Maqna Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, yaitu pada selasa – kamis 26-28 Januari 2021. Direktur dan Deputy Director dari SDGs Center UNPAD menjadi pembicara pada hari kedua. Prof Zuzy Anna memberikan materi terkait pengenalan Metadata SDGs dan metode Proyeksi Baseline. Lalu Dr. Ahmad Komarulzaman menyampaikan materi terkait dengan metode proyeksi baseline (hands-on) dan proyeksi baseline vs target (Gap Analysis)/ Hands-On. Peserta pada kegiatan ini terdiri dari 35 orang

Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk membentuk fasilitator SDGs UNG yang dapat melakukan pendampingan SDGs dengan State Actor (SA) dan/atau Non-State Actor (NSA). Lalu tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan need assessment SDGs (Planning, Implementation, Monev, dan Reporting Stage).  Adapun topik yang dipresentasikan oleh Prof Zuzzy Anna  meliputi: mengapa analisis baseline SDGs, studi-studi baseline SDGs, dan metode-metode proyeksi.

Prof. Zuzy Anna menjelaskan latar belakang adanya studi baseline adalah karena SDGs mempunyai target yang cukup ambisius sementara sumber daya seperti finansial terbatas. Oleh karena itu untuk mengoptimalkan sumber daya tersebut, kita perlu memahami sasaran apa yang perlu diprioritaskan dan apa landasannya. Tujuan dari studi baseline adalah mengkaji sejauh mana sasaran-sasaran SDGs dapat dicapai oleh daerah provinsi-provinsi di Indonesia. Memetakan di bidang-bidang SDGs apa dan provinsi-provinsi mana yang memerlukan perhatian lebih besar.

Selanjutnya penentuan indikator yang akan diproyeksikan atau disusun baselinenya dengan mengidentifikasi daftar indikator SDGs berdasarkan IAEG-SDGs (UN)/ Metadata SDGs Indonesia. Identifikasi ketersediaan dan aksesibilitas data (BPS baik publikasi maupun SUSENAS yang diolah), lalu menentukan indikator terpilih.

Pada akhir materi, prof Zuzy memberikan ringkasan bahwa SDGs adalah tantangan berat pembangunan global demikian juga Indonesia. Pembangunan ke depan yang sifatnya bisnis-as-usual jauh dari menjamin target SDGs akan tercapai di tahun 2030. Oleh karena itu, upaya-upaya ekstra keras, inovatif, dan out-of-the-box (non-BAU) diperlukan jika ingin benar-benar serius ingin mencapai target SDGs di tahun 2030. Selanjutnya masing-masing provinsi mempunyai tantangan dengan prioritas yang berbeda-beda, tetapi tidak ada provinsi di Indonesia yang immune dengan tantangan berat SDGs.