Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Gelar Rapat Evaluasi Perkebunan Berkelanjutan Sebagai Upaya Perumusan Kebijakan Strategi Perkebunan Berkelanjutan

on
95
views

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) menyelenggarakan Rapat Evaluasi Perkebunan yang bertema ‘Kesesuaian Pengelolaan Perkebunan di Indonesia per Komoditas Utama dalam Kaitannya dengan Target Capaian SDGs 2030’ pada tanggal 15 November 2021 di Sheraton Bandung Hotel & Towers, Bandung. Agenda pada rapat tersebut, yaitu penyusunan konsep kebijakan strategis dalam pelaksanaan aktivitas perkebunan yang  berkelanjutan.

Acara dihadiri oleh sekitar 35 peserta dan Prof. Zuzy Anna diundang sebagai narasumber untuk menyampaikan materi terkait  ‘Peranan Sektor Perkebunan Pada Pencapaian SDGs’. Pemaparan diawali dengan penyampaian SDGs secara umum dan perbedaannya dengan MDGs yang terletak pada penekanan terhadap people, prosperity dan planet. Laporan perkembangan pencapaian SDGs dalam 5 tahun ini untuk Asia Pasifik yang diterbitkan oleh UNESCAP tahun 2019 memproyeksikan bahwa Asia Pasifik tidak dapat mencapai satupun tujuan SDGs pada tahun 2030. Masih banyak indikator yang stagnan dan bahkan menuju kepada hasil yang tidak diharapkan. Analisis SDGs Center mengenai skor proyeksi pencapaian SDGs tahun 2019 menunjukkan bahwa terdapat 5 provinsi dengan skor yang stagnan, 5 provinsi dengan skor yang semakin menurun dan 24 provinsi dengan skor yang semakin meningkat. Hal ini menjadi masalah serius bagi Indonesia, apalagi dengan adanya pandemi covid-19 yang tentunya sangat berdampak pada pencapaian SDGs. Untuk dapat mengatasi hal tersebut diperlukan adanya kolaborasi dari berbagai sektor, terutama masalah pendanaan yang dapat dibantu oleh sektor privat. Sektor privat mengakomodasi 60% dari output ekonomi dan 90% pekerjaan di negara berkembang. Namun, sektor privat yang hanya mementingkan profit tanpa memperhatikan lingkungan dan dampak sosial justru akan menghambat penyampaian SDGs. Padahal, apabila sektor privat turut serta dalam membantu pencapaian SDGs, banyak hal yang dapat dilakukan baik core maupun non-core activities.

Beliau memberikan gambaran terkait dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dari industri perkebunan kelapa sawit yang merujuk dari berbagai penelitian. Sektor privat terutama industri perkebunan sudah seharusnya untuk turut serta melakukan monitoring SDGs berbasis PROPER dan membuat sustainability report. Langkah praktisnya dengan melakukan tagging kegiatan core dan non-core business industri perkebunan (kegiatan CSR) ke dalam indikator SDGs. Tagging dikorelasikan pada indikator-indikator utama yang dianggap berpotensi untuk sangat dilibatkan secara langsung pada pencapaian target SDGs serta pada indikator-indikator yang mendukung. Dengan begitu, dapat diidentifikasi dampak kegiatan ataupun kontribusi industri terutama terhadap aspek sosial dan ekonomi.