NewsPerspectives

Bagaimana Mengukur Keberlanjutan Program Makan Sekolah: Inspirasi bagi Ilmu Sosial Partisipatoris di Indonesia untuk Mengoptimalkan Manfaat Sosial dari Kebijakan Makan Bergizi Gratis

Mara Petruzzelli (Department of Agricultural and Food Sciences, Alma Mater Studiorum – University of Bologna, Bologna, Italy), Rico Ihle (Department of Social Sciences, Wageningen University, Wageningen, The Netherlands & Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia)

Lebih dari 110 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa’ global School Meals Coalition menegaskan bahwa program makan sekolah merupakan salah satu inisiatif publik paling berdampak dalam mendukung pemerintah mencapai agenda kebijakan mereka guna merealisasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Berbagai bukti yang sangat kuat (WFP, 2025) menunjukkan bahwa program makan sekolah bukan sekadar peluang untuk meningkatkan kesejahteraan anak, melainkan juga merupakan segmen sistem pangan yang ideal untuk membentuk pola konsumsi berkelanjutan sepanjang siklus hidup anak (Pastorino et al., 2024). Artikel blog “Dari Meja Ilmuwan ke Kantin Sekolah” menguraikan berbagai cara Indonesia dapat berkontribusi pada penguatan basis bukti tersebut, melalui beragam peluang riset dan pengalaman kebijakan yang terbuka seiring dengan peluncuran nasional program MBG (Makan Bergizi Gratis) sejak awal tahun 2025. Gambar 1 menampilkan salah satu contoh dapur sekolah yang baru didirikan di wilayah perdesaan di selatan Bandung.

Gambar 1: Dapur sekolah yang baru didirikan di Cimaung (Jawa Barat)

Sumber: penulis

Atas dasar itu, program makan sekolah melampaui sekadar upaya peningkatan ketahanan pangan dan perbaikan gizi (SDG 2), khususnya bagi kelompok rentan. Program ini berkontribusi terhadap kemajuan pada 11 dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (School Meals Coalition, 2025). Lebih jauh lagi, sebuah target tematik baru mengenai makan sekolah sebagai bagian dari SDG 4 “Pendidikan Berkualitas” telah diterima oleh UNESCO untuk dimasukkan dalam Agenda 2030 Perserikatan Bangsa-Bangsa. Target baru tersebut bertujuan untuk “memastikan bahwa seluruh anak memiliki kesempatan menerima makanan yang aman, sehat, dan bergizi di sekolah” pada tahun 2030 (WFP, 2025).

Berkaca pada warisan School Meals Coalition yang dipimpin oleh World Food Programme (WFP), hampir 60 persen negara di dunia hingga saat ini telah mengambil langkah konkret untuk membangun program katering sekolah baru atau memperbaiki layanan yang sudah ada secara efisien dan berkelanjutan. Indonesia bergabung dengan Koalisi tersebut pada tahun 2025, sejalan dengan posisi sentral program MBG dalam agenda Presiden Prabowo Subianto, yang menargetkan penyediaan makanan gratis bagi sekitar 60 juta anak sekolah di seluruh Indonesia. Sebagai bagian dari partisipasi Indonesia dalam Koalisi, salah satu komitmen terpenting adalah memastikan bahwa layanan katering dirancang dan dikelola secara berkelanjutan. Hal ini berarti berbagai dimensi ekonomi, sosial, lingkungan, dan gizi perlu dipertimbangkan secara komprehensif dalam evaluasi program makan sekolah. Aspek-aspek tersebut mencakup pemanfaatan menu makan siang yang baru diperkenalkan untuk mendukung pendidikan pangan bagi anak, penerapan pengadaan lokal sejauh mungkin, misalnya melalui pembelian bahan baku dari petani skala kecil, serta perancangan eksperimen konsumsi pangan di kantin sekolah untuk meningkatkan kesehatan anak (Republik Indonesia, 2025).

Untuk membangun struktur layanan katering sekolah yang efisien dalam pemanfaatan sumber daya, memantau kemajuan dan capaian, serta mengidentifikasi praktik terbaik (maupun praktik yang kurang efektif), pemerintah nasional telah berupaya memperjelas dan mengukur makna keberlanjutan dalam konteks layanan makan sekolah sesuai dengan kebutuhan masyarakat masing-masing. Makanan sekolah dipandang berkelanjutan apabila “menyediakan pangan yang sehat dan adil bagi anak-anak, diproduksi dengan cara yang tidak mencemari atau mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan serta melindungi keanekaragaman hayati” (Pastorino et al., 2025). Dalam kerangka tersebut, kementerian terkait, otoritas pendidikan dan ketahanan pangan, guru, keluarga, serta para penyuluh dan ahli gizi perlu membangun pemahaman bersama ketika menilai apakah program makan sekolah dapat dikategorikan sebagai berkelanjutan dalam konteks realitas sosial, tantangan, dan potensi sumber daya yang dimiliki oleh wilayah atau negara masing-masing.

Para pemangku kepentingan perlu mencapai konsensus mengenai apa yang dimaksud dengan pola makan sehat bagi anak sekolah (keberlanjutan gizi), manfaat sosial yang lebih luas bagi keluarga, komunitas lokal, dan masyarakat secara keseluruhan yang diharapkan dari layanan katering sekolah (keberlanjutan sosial), dasar pembiayaan yang dipilih untuk mendukung penyelenggaraan makan sekolah secara layak dan berkelanjutan dalam jangka panjang (keberlanjutan ekonomi), serta bagaimana menerapkan pendekatan yang efisien dalam penggunaan sumber daya dengan tetap menghormati, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam lokal dan regional (keberlanjutan lingkungan). Evaluasi atas kemajuan dan capaian, sekaligus pembelajaran bersama antarwilayah dan antarnegara, memerlukan pengukuran yang presisi dan dilaksanakan oleh pihak yang objektif, seperti lembaga pemerintah yang kompeten dan memiliki kapasitas kelembagaan yang memadai. Namun demikian, bagaimana secara tepat mengukur berbagai dimensi keberlanjutan makan sekolah tersebut, agar prioritas nasional dapat tercermin secara memadai sekaligus menjamin keterbandingan hasil antarwilayah, antarnegara, dan lintas waktu masih menjadi pertanyaan terbuka yang perlu dijawab oleh para pembuat kebijakan, masyarakat sipil, dan komunitas peneliti.

Living laboratories (laboratorium hidup) berkembang sebagai metode yang efektif untuk mengidentifikasi dan mengoperasionalkan berbagai pendekatan dalam memantau serta menilai kinerja program makan sekolah, termasuk dalam aspek keberlanjutannya. Laboratorium ini dapat dirancang dalam bentuk lingkungan fisik maupun virtual. Karakteristik utamanya adalah penyediaan ruang yang aman dan terbuka, di mana kelompok warga dengan latar kepentingan yang beragam dapat bertemu dan berinteraksi dengan pembuat kebijakan, ilmuwan, pelaku usaha, serta berbagai jenis pakar lainnya, guna bersama-sama merumuskan solusi atas tantangan yang dihadapi masyarakat. Proses pertukaran pengalaman, komunikasi, serta identifikasi bersama atas prioritas, peluang, dan keterbatasan tersebut idealnya mengikuti pendekatan ilmiah yang dituangkan dalam protokol tertulis secara eksplisit, sebagaimana diuraikan secara rinci dalam Petruzzelli et al. (2025).

Di Italia bagian utara, Laboratorium Katering Berkelanjutan didirikan sebagai sebuah living laboratory yang dipimpin bersama oleh pemerintah daerah dan Universitas Bologna. Laboratorium ini mempertemukan para ahli pendidikan, peneliti, dan pembuat kebijakan untuk secara kolaboratif merancang solusi dalam memahami serta meningkatkan keberlanjutan kantin sekolah, sekaligus menerjemahkan konsensus mengenai manfaat gizi, sosial, dan lingkungan dari program makan sekolah ke dalam tindakan sosial dan kebijakan yang konkret. Salah satu tujuan utama laboratorium tersebut adalah mengembangkan suatu instrumen yang memungkinkan evaluasi dan pemantauan kinerja layanan makan siang di sekolah-sekolah dalam lingkup provinsi, dengan mengacu pada tiga dimensi keberlanjutan.

Artikel ilmiah Petruzzelli et al. (2025a) mendokumentasikan secara rinci seluruh proses penelitian beserta hasil yang diperoleh. Struktur dan dimensi yang tercakup dalam instrumen penilaian yang dikembangkan, termasuk indikator-indikator spesifik yang diukur, ditentukan melalui proses partisipatif bersama kelompok pemangku kepentingan ahli yang tergabung dalam living laboratory tersebut (Gambar 3 menampilkan salah satu pertemuan di Laboratorium Katering Berkelanjutan). Sejumlah lokakarya diselenggarakan dengan fokus pada perumusan pemahaman bersama mengenai tantangan utama, pemilihan indikator secara kolektif, serta penentuan skala pengukurannya. Sebagai hasilnya, instrumen yang dikembangkan oleh Petruzzelli et al. (2025a) mengevaluasi keberlanjutan gizi, sosial, dan lingkungan dari pilihan layanan makan siang di sekolah tertentu. Instrumen ini didasarkan pada pengukuran objektif terhadap 23 indikator gizi, 10 indikator lingkungan, dan 9 indikator sosial (lihat Gambar 2 untuk dua contoh indikator kualitatif yang diukur). Keempat puluh dua indikator tersebut kemudian diagregasikan menjadi satu skor keberlanjutan komposit yang berkisar antara 0 hingga 75 dan mudah diinterpretasikan. Skor keseluruhan ini dapat diuraikan lebih lanjut menjadi sub-skor untuk masing-masing dari ketiga dimensi keberlanjutan. Untuk menilai bagaimana preferensi sosial yang berbeda dari konteks Italia utara dapat memengaruhi struktur dan interpretasi skor tersebut, analisis ini juga merancang tiga skenario yang merefleksikan kemungkinan prioritas alternatif para pemangku kepentingan di luar Italia.

A long table with plates and cups on it

AI-generated content may be incorrect.A wall with art pieces of fruit and vegetables

AI-generated content may be incorrect.Gambar 2: Aspek yang diukur melalui indikator sosial (kiri) dan indikator lingkungan (kanan) dalam instrumen penilaian: materi edukasi serta penggunaan peralatan makan yang dapat digunakan kembali di kantin sekolah

Sumber: Penulis

               Pelibatan bersama berbagai kelompok kepentingan dalam pengembangan pendekatan pemantauan memungkinkan diperolehnya pemahaman yang menyeluruh dan mendalam mengenai pandangan serta prioritas mereka, yang perlu dipertimbangkan dalam instrumen penilaian agar dapat diterima sebagai relevan dengan realitas yang mereka hadapi. Konsensus yang dicapai melalui proses komunikasi tersebut juga memperjelas aspek keberlanjutan mana yang ingin dipantau secara lebih intensif oleh masyarakat Italia. Perspektif dari berbagai kelompok kepentingan yang berpartisipasi-mulai dari praktisi pangan seperti perusahaan katering hingga guru dan pembuat kebijakan-dikumpulkan dan disusun dalam format yang sistematis dan terstruktur, kemudian diterjemahkan ke dalam pengukuran numerik. Dengan demikian, indikator, skala pengukuran, serta mekanisme agregasinya mencerminkan kebutuhan dan prioritas para pelaksana di lapangan, sekaligus selaras dengan tujuan kebijakan komunitas. Pendekatan partisipatif ini terbukti meningkatkan tingkat penerimaan, rasa memiliki, dan kepercayaan terhadap instrumen yang dikembangkan. Instrumen pemantauan tersebut dirancang dalam format yang ramah pengguna dan karenanya dapat digunakan secara langsung oleh para pengelola layanan makan sekolah untuk mengevaluasi program yang dijalankan. Instrumen ini telah diadopsi sebagai persyaratan yang mengikat bagi seluruh sekolah di wilayah Italia tersebut dan terbukti efektif dalam menyediakan informasi bagi pembuat kebijakan serta otoritas terkait dalam format yang mudah dikomunikasikan.

Gambar 3: Presentasi dan diskusi instrumen akhir penilaian keberlanjutan bersama para pemangku kepentingan dalam living laboratory di Italia

Sumber: Penulis

Instrumen keberlanjutan yang dikembangkan tersebut dapat berfungsi sebagai cetak biru strategis awal bagi pengembangan pendekatan pemantauan keberlanjutan yang serupa, guna mendukung keberhasilan ambisi Indonesia dalam penyelenggaraan program makan sekolah. Meskipun pendekatan Petruzzelli et al. (2025a) disusun berdasarkan prioritas keberlanjutan di Italia, instrumen tersebut menawarkan mekanisme yang transparan dan dapat direplikasi, sehingga dapat diuji coba di kantin-kantin sekolah di Indonesia untuk menilai sejauh mana indikator yang diusulkan relevan dengan konteks nasional. Pengalaman penerapan instrumen tersebut di Italia memberikan pembelajaran bagi otoritas Indonesia mengenai tantangan utama dan manfaat yang muncul dalam proses perancangan maupun implementasi praktisnya. Pemahaman mengenai aspek-aspek yang berfungsi dengan baik serta hambatan utama yang dihadapi dapat menempatkan otoritas Indonesia pada posisi yang lebih siap dalam mereplikasi atau menyesuaikan instrumen tersebut guna mendukung pengembangan berkelanjutan program MBG pada tahun-tahun mendatang. Penerapan versi yang telah diadaptasi di Indonesia tidak hanya dapat memberikan informasi kepada otoritas mengenai cara memfasilitasi pemantauan mandiri atas kemajuan keberlanjutan di masing-masing sekolah, tetapi juga memungkinkan perbandingan capaian dan trajektori kinerja antarwaktu serta antar sekolah atau kelompok sekolah. Hal ini dapat menjadi dasar bagi otoritas untuk secara lebih tepat mengidentifikasi di mana, kapan, dan bagaimana intervensi diperlukan guna mendorong perubahan yang dibutuhkan dalam mewujudkan ambisi Indonesia tersebut.

Seluruh otoritas publik pada berbagai tingkatan tata kelola di Indonesia, yang memiliki peran dalam implementasi program MBG, dapat memperoleh inspirasi praktis dari integrasi berbagai kelompok kepentingan masyarakat dalam perancangan metode evaluasi pemerintah yang memenuhi standar ketepatan dan integritas ilmiah melalui pendekatan living laboratory. Dengan mengikuti panduan metodologis mengenai prosedur perancangan instrumen dan pelaksanaan pendekatan partisipatif sebagaimana diuraikan oleh Petruzzelli et al. (2025a), otoritas di tingkat provinsi dan daerah memiliki peluang untuk mereplikasi model living laboratory serupa di Indonesia. Sebagai bagian dari living laboratory tersebut, para profesional pengelola makanan sekolah dapat memetakan realitas lingkungan pangan sekolah di Indonesia untuk memahami aspek-aspek fundamentalnya serta bagaimana instrumen penilaian dapat diterapkan secara praktis. Apabila living laboratory di Italia memutuskan untuk mengevaluasi keberlanjutan makan sekolah berdasarkan kualitas gizi serta manfaat lingkungan dan sosial yang dihasilkan, otoritas Indonesia dapat memilih untuk memfokuskan perhatian pada dimensi yang berbeda sesuai dengan prioritas nasional. Panduan yang konkret dan dapat diterapkan secara langsung bagi sektor katering sekolah ini akan mendukung terwujudnya ambisi keberlanjutan Indonesia serta pencapaian tujuan program MBG.

Untuk informasi lebih lanjut, publikasi tersebut dapat diakses melalui tautan berikut:
https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2025.146015

Referensi

Pastorino, S., Backlund, U., Bellanca, R., Hunter, D., Kaljonen, M., Singh, S., Vargas, M., Bundy, D., 2025. Planet-friendly school meals: opportunities to improve children’s health and leverage change in food systems 9. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(24)00302-4

Petruzzelli, M., Amadori, S., Ihle, R., Fridel, M., Vittuari, M., 2025a. Monitoring nutritional, environmental and social sustainability in school food settings : A three-dimensional score-based assessment tool. Journal of Cleaner Production 519, 146015. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2025.146015

Petruzzelli, M., Ihle, R., Vittuari, M., 2025b. “Dari Meja Ilmuwan ke Kantin Sekolah”  https://sdgcenter.unpad.ac.id/dari-meja-ilmuwan-ke-kantin-sekolah-potensi-laboratorium-hidup-untuk-merancang-makanan-sekolah-berkelanjutan-di-indonesiaoleh-mara-petruzzelli-rico-ihle-matteo-vittuari/

Republic of Indonesia, 2025. Commitments of the Government of Indonesia. https://schoolmealscoalition.org/member/indonesia

School Meals Coalition, 2025. School meals are multisectoral game changers. https://schoolmealscoalition.org/why-school-meals  

WFP, 2025. State of School Feeding Worldwide 2024. https://www.wfp.org/publications/state-school-feeding-worldwide