Tuesday, March 5, 2024
News

SDGs Center UNPAD Sarankan OECD Hapus Utang Negara Berkembang

Dalam salah satu pertemuan tahuan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang membahas strategi penangangan kemiskinan dan ketimpangan global, SDGs Center UNPAD, diwakili oleh Prof. Zuzy Anna, diundang sebagai pembicara kunci untuk memaparkan hasil risetnya tentang proyeksi dari tingkat kemiskinan global dari berbagai dimensi. Paparan hasil riset SDGs center tersebut digunakan sebagai scene-setting presentation sebagai pegangan dari pembahasan tentang bagaimana strategi yang harus dilakukan OECD untuk mengantisipasi gagalnya dunia dalam memenuhi target-target SDGs yang terkait dengan kemiskinan dan ketimpangan pada tahun 2030.

Sebelumnya, hasil riset SDGs center yang sama, yang dirilis bulan Oktober 2023 lalu yang berjudul “Will economic growth be sufficient to end global poverty? New projections of the UN Sustainable Development Goals” juga digunakan sebagai referensi dalam White Paper on International Development yang dirilis oleh kantor perdana menteri Inggris. White paper ini akan digunakan oleh pemerintah Inggris untuk merencanakan berbagai program bantuan internasionalnya ke negara-negara berkembang.

Pertemuan OECD yang bertajuk “Development Co-operation’s Role in Accelerating Poverty and Inequality Reduction at the Mid-Point of Agenda 2030” yang dilaksanakan secara daring pada tanggal 12 Desember 2023 dibuka oleh Carsten Staur, Chair, Development Assistance Committee (DAC), OECD. Selain Prof. Zuzy Anna, pembicara kunci lainnya adalah Dr. Eduardo Ortiz-Juarez dari King’s College London. Implikasi dari Paparan SDGs Center UNPAD dikomentari oleh tiga panelis yaitu Sarah Hunt, Policy Director, Department of Foreign Affairs; Ireland, Homi Kharas, Senior Fellow, Brookings, US; dan Max Lawson, Head of Inequality Policy and Advocacy, Oxfam International.

Dalam presentasinya, Prof. Zuzy Anna menyimpulkan bahwa target-target SDGs global yang terkait dengan kemiskinan dari berbagai dimensi seperti tingkat kemiskinan ekstrim, malnutrisi, stunting, tingkat kematian bayi, tingkat kematian ibu melahirkan dan akses terhadap air bersih dan sanitasi diprediksikan tidak akan tercapai, meninggalkan gap yang cukup besar. Negara-negara di Sub-Saharan Africa akan semakin mendominasi populasi penduduk dengan kemiskinan ekstrim. Yang paling mengkhawatirkan adalah tingkat malnutrisi yang bukannya berkurang, malah akan meningkat di tahun 2030 melebihi angka di tahun 2015 ketika SDGs dicanangkan.

Sebagai rekomendasi-nya untuk OECD, SDGs Center menyarankan agar segera dilakukan pengurangan beban utang besar-besaran bagi negara-negara berkembang selama 7 tahun kedepan menuju 2030, tenggat akhir SDGs. Ini menjadi penting karena dengan prospek melesunya ekonomi global, justru pengeluaran sosial dan berbagai pengeluran yang produktif lainnya harus diekspansi, bukan dikurangi, terutama di negara-negara belahan selatan dunia (Global South). Tanpa itu tercapainya penghapusan kemiskinan global dengan berbagai dimensi di tahun 2030 hanya akan tinggal harapan.

Arief Anshory Yusuf

Professor at Universitas UNPAD - Bandung