sdgadmin – SDGs Center https://sdgcenter.unpad.ac.id Universitas Padjadjaran Tue, 11 Apr 2023 07:27:46 +0000 en-US hourly 1 https://sdgcenter.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2016/05/cropped-SDGs-Center-Logo-32x32.png sdgadmin – SDGs Center https://sdgcenter.unpad.ac.id 32 32 Seminar Nasional – Sustainable Upland Production Landscape : Reflections for Advancing Agri-Environmental Policy in Indonesia https://sdgcenter.unpad.ac.id/seminar-nasional-sustainable-upland-production-landscape-reflections-for-advancing-agri-environmental-policy-in-indonesia/ Thu, 02 Feb 2023 05:36:58 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37664

Seminar Nasional Sustainable Upland Production Landscape: Reflections for Advancing Agri-Environmental Policy in Indonesia

Seminar Nasional yang diadakan oleh ICRAF yang berkolaborasi bersama SDGs Center Unpad membawa tema Sustainable Upland Production Landscape : Reflections for Advancing Agri-Environmental Policy in Indonesia dilakukan pada hari Kamis, 26 Januari 2023. Opening seminar ini dilakukan oleh Direktur SDGs Center Unpad yaitu Prof. Dr. Zuzy Anna, S.Si., M.Si. Keynote speakers pada seminar ini adalah Umi Karomah, Ph.D selaku Head of Research Center for Behavioral and Circular Economics, National Research and Innovation Agency (BRIN) dan Prof. Christopher Findlay dari Australian National University. Umi Karomah mengatakan harmonisasi antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Konteks landscape dalam pembangunan ekonomi Indonesia ini merupakan pendekatan yang relative baru, yang secara efektif akan mengintegrasikan berbagai kebijakan dan mendukung pertanian Indonesia. Landscape juga sangat terkait dengan produksi dan konsumsi, dan dengan adanya science diharapkan akan mendukung landscape. Untuk meningkatkan produksi di sektor agriculture diantaranya : (1) Menggunakan wilayah Upland, (2) Di Indonesia 15-20 million berpotensi untuk  cultivation of tree crops/ estate crops, (3) Peningkatan wilayah pertanian. Prof. Christopher Findlay juga mengatakan cara untuk Mobilising the insights from IndoGreen
  • IndoGreen has yielded significant insights into policy options for sustainable upland. (integrating economic and environmental).
  • Quick summary of aspect of the rural transformation work . The work mobilise and implement these insights.
  • Rural transformation : specialitation, use of markets, trade-local and across borders.
  • Many deleoping countries has experienced this.
Key points : Four countries RTs all lead structural change in the economy between rural and rural sectors. Also lead : per capita income growth, poverty reducation in HH level. Indogreen generates insights into the process of getting to market- and the evolution (or expectation of the evolution) of value chains. Pada sesi I, tema yang dibawakan adalah Production Landscape, ecosystem services, social forestry. Dr. Beria Leimona dari ICRAF membawakan tema Socioeconomic Impacts of the production landscape multifunctionary in Pagar Alam. beberapa point dari materi dari Dr. Beria yaitu : 
  • Upland landscape menjadi bagian penting dalam pertanian Indonesia, tentunya dengan mengedepankan prinsip berkelanjutan, menyeimbangkan pembangunan dan konservasi.
  • Green growth harapannya menyeimbangkan pembangunan dan konservasi di tingkat landscape terutama berkaitan dengan lahan pertanian.
  • Masalah : melebarnya lahan pertanian yang belum berlekanjutan menimbulkan degradasi lahan yang merugikan pembangunan ekonomi.
Pembicara kedua pada sesi I yaitu Sacha Amaruzaman dari University of Adelaide. Beliau mengatakan Penjelasan mengenai dinamika Sosial Ekonomi di wilayah Upland terutama Pagar Alam dan adanya Hutan Kemasyarakatan di Indonesia di Pagar Alam. Tentu sangat terkait dengan distribusi lahan dengan skema perhutanan sosial dan pembagian lahan secara langsung. 3 objectives : livelihood improvement, social equcity, forest conservation. Research Objectives 
  1. Mengidentifikasi local perception
  2. To access potential outcome
Methods : HH survey and FGD Results :
  • Masyarakat meninginginkan diversifikasi ke pertanian sayur, kontra dengan HKM (pertanian berbasis pohon)
  • Potential outcomes of HKM :
    • ND1 ( well established productive landscape, terkoneksi dengan market, dan minim erosi) dan ND2(Steps land). 
    • Masih banyak HKM yang sulit terjangkau
    • Petani hutan dengan lahan banyak, namun income cenderung sedikit, sedangkan petani dengan lahan tidak di hutan mengunginkan hutan sebagai lahan konservasi.
  • Objectives 
    • Livelihood : tidak semua lahan cock untuk pertanian pohon
    • Social equity : lack of participation
    • Forest conservation : HKM sangat baik melalui konservasi hutan berkelanjutan.
    • HKM di Pagar Alam sudah cukup baik namun perlu memerhatikan karakteristik masyarakat di wilayahnya.
Narasumber berikutnya adalah Dr. Betha Lusiana dari World Agroforestry (ICRAF) membahas tentang The Impact of Social Forestry zoning governance and coffee management on farmers’ livelihoods and ecosystems services. Beberapa poin dari dari penjelasan Dr. Betha yaitu : 
  • Research Question : Bagaimana kebijakan yang telah ada memengaruhi economic well being, apakah ada trade off antara jasa lingkungan dan kehidupan petani, bagaimana policy alternative jika dibandingan dengan existing policies.
  • Model representation of Landscape. Livelihood options – activities by farmers (1). Single land; (2). Multiple land; (3). Not associated with land-use 
  • 4 modul utama : kesuburan lahan, aggregated HH economics, farmers decision making and learning, land use land cover change.
  • Bagaimana akses kopi di hutan, bagiamana petani meningkatkan sistem kopi.
    • High revenue obtained in BAU and Open Access scenarios
    • High carbon stocks
  • Social forestry tidak bisa mempertahankan income sehingga perlu ada skema insentif yang setidaknya membantu petani yang kehilangan pendapatannya akibat skenario yang menyasar ke lingkungan.
Pada Sesi II, Prof. Erwidodo selaku Representative BRIN menjabarkan beberapa poin penting yaitu :  Skenario 2018-2028 Climates Changes , Low (20mm/sec), Med(25mm/sec), High(30 mm/sec) Land cover S1 : The government carries out a seasonal crop development program  S2 : Coffee agroforestry development program by reducing forest land and other wood crops S3 :  reforestration program by reducing mix garden and coffee agroforest. Soil Conservation : S1 : <50% of area implement soil conservation activities S2 : >50% of area implement soail conservation activities
    1. Data yang terbatas dan parameter
    2. Measuring erosion rates at several outlest
Dr. Sumaryanto dari BRIN juga menjabarkan Determinants of Farmers Behaviour
  • Mengidentifikasi faktor terntu yang memengaruhi petani dalam usaha taninya
  • Lokasi : Bandung dan Bandung Barat (22 Desa)
  • Sampel : 500 Rumah Tangga petani, 244 adalah petani pemilik sendiri lahannya dan menanam tanamana tahunan. 
  • Apa faktor yang memengaruhi petani mempraktikkan konservasi?
49 persen petani yang memiliki lahan garapan sendiri, 0.36 Ha itu lahan yang dimiliki sendiri, sedangkan 0.2 Ha tidak dimiliki sendiri. 78% petani mengatakan bahwa mengembangkan konverasi itu mudah, 20 % sangat mudah. Conclusions : Determinan partisipasi dan insensitas konservasi : (1) control and utilization land (2) condition farmland (3) contribution framing to income (4) farmer’s ability to finance conservation and (5) regional characteristics. Dr. Ronnie S. Natawidjaja Associate Prof  (Center for Sustainable Food Studies, Universitas Padjadjaran) mempertanyakan Bagaimana keterkaitan pasar dan pelaku petani dalam menjalankan usaha taninya?
  • Pasar tradisional memiliki transcation cost yang tinggi, dan adanya keterbatasan informasi menjadikan tidak efisien.
  • Investasi untuk lingkungan berkaitan dengan kualitas.
  • Kondisi pasar yang dominan, terutama memasok produk pertanian dari dataran tinggi tetap akan menimbulkan masalah.
  • Panjangnya rantai pasok pasar tradisional  dan banyaknya aktor didalamnya dan menimbulkan inefisiensi dan rendahnya harga petani itu sebenarnya tidak dapat dipastikan. Tidak ada nilai tambah yang ada hanya tambahan biaya.
Berikut link rekaman youtube : https://www.youtube.com/watch?v=07rsub9qSTc   
]]>
Sekolah Valuasi Gelombang VI https://sdgcenter.unpad.ac.id/sekolah-valuasi-gelombang-vi-2/ Thu, 02 Feb 2023 02:54:05 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37659 Pada 27-28 Januari 2023, telah dilaksanakan kegiatan Sekolah Valuasi Gelombang VI yang diadakan oleh EEI-Indonesia, EEPSEA dan SDGs Center Universitas Padjadjaran. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan oleh EEI-Indonesia yang bekerjasama dengan SDGs Center Unpad. Pada kali ini, kegiatan dilangsungkan di Unpad Training Center (UTC), Bandung dengan mendatangkan beberapa pembicara diantaranya adalah Prof. Zuzy Anna, Prof. Arief Anshory Yusuf, S.E.,M.Sc., Ph.D., Dr. Alin Halimatussadiah, Mia Amalia, Ph.D., dan Dr. Martin Daniel Siyaranamual.

Dari 762 pendaftar, terdapat 33 peserta yang lolos untuk mengikuti kegiatann Sekolah Valuasi. Beberapa peserta berasal bukan hanya dari daerah-daerah di Pulau Jawa saja, tetapi juga dari Lampung, Medan, Bali, dan daerah lainnya.

Prof. Arief Anshory Yusuf sedang menyampaikan salah satu materi Sekolah Valuasi Batch VI

Acara dimulai dengan adanya pre-test terlebih dahulu sehingga dapat mengetahui pemahaman dari peserta. Adapun materi yang disampikan dalam sekolah valuasi antara lain: Introduction to valuation: environmental issues and the viewpoint of economics, introduction to cost-benefit analysis, travel cost methods, hedonic price method, contingent valuation method, choice modelling, cost-based method, productivity method, dan benefit transfer. Materi disampaikan dengan memberikan contoh studi kasus seperti estimating damage value due to PCB contamination in new Bedford Harbor dan studi kasus yang relevan lainnya. Dengan demikian, hal ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik bagi para peserta Sekolah Valuasi.

Dengan adanya pelatihan ini, maka diharapkan para peserta yang berasal dari berbagai instansi dan organisasi dapat menerapkan metode valuasi yang tepat di pekerjaan masing-masing.

]]>
Presentation Material of Sustainable Upland Production Landscape: Reflections For Advancing Agri-Environmental Policy In Indonesia https://sdgcenter.unpad.ac.id/presentation-material-of-sustainable-upland-production-landscape-reflections-for-advancing-agri-environmental-policy-in-indonesia/ Mon, 30 Jan 2023 09:30:53 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37644 This seminar presents the findings of IndoGreen collaborative research resulting in the alternative policy pathways to improve agriculture’s environmental and long-term performance in upland catchments. Finally, the seminar is expected to summarize the main policy leverages to achieve sustainable and secure food systems aligned with these goals.

For participants who will get some presentation materials, you can download it from the link below.
01-OpeningSpeechSDGsCenter-ProfZuzyAnna

02-KeynoteSpeaker_BRIN_UmiKaromahYaumiddinPhD

03-KeynoteSpeaker-ANU-ProfChristopherFindlay

04_Sesi2_ICRAF_DrLeimona_Pagar Alam production landscape_soil and water conservation

05-Sesi1-UnivofAdelaide-Sacha-NRMPoliciesin Upland06-Sesi1-ICRAF-BethaLusiana-FALLOW

07-Sesi2-BRIN-DrSumaryanto-DeterminantsOfFarmersBehaviour

08-Sesi2-BRIN-ProfErwidodo-GenRiver Model on the Upstream Citarum and Saguling Reservoir

09_Sesi2_UNPAD-AssocProfRonnie-Impact of Modern VC

]]>
National Seminar on Sustainable upland production landscape: reflections for advancing agri-environmental policy in Indonesia https://sdgcenter.unpad.ac.id/national-seminar-on-sustainable-upland-production-landscape-reflections-for-advancing-agri-environmental-policy-in-indonesia/ Mon, 23 Jan 2023 10:38:02 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37640 With support from ACIAR and in collaboration with the University of Adelaide, Indonesian Center for Agricultural Socioeconomic and Policy Studies (ICASEP), Center for Sustainable Development Goals Studies, Padjajaran University and Economy and Environment Institute Indonesia (EEII), World Agroforestry (ICRAF) will conduct a National Seminar on Sustainable upland production landscape: reflections for advancing agri-environmental policy in Indonesia, on:

Date: Thursday, 26 January 2023

Time: 8:30 – 12:30 WIB 

Venue:

Offline: Bale Rumawat, Padjajaran University, Jl. Dipati Ukur no. 35, Bandung (limited for 50 participants)

Online: Zoom or YouTube streaming (unlimited participants)

 

This seminar presents the findings of IndoGreen collaborative research resulting in the alternative policy pathways to improve agriculture’s environmental and long-term performance in upland catchments. Finally, the seminar is expected to summarize the main policy leverages to achieve sustainable and secure food systems aligned with these goals.

 

We are delighted having the opportunity to invite you to participate in the national seminar. For your reference, please find the Seminar Flyer attached. 

Please register your participation by fill-in the online form at https://agroforestri.id/Registration-NationalSeminarIndogreen (link to google form). Offline participants are responsible for their own travel and accommodation, the committee will only provide half-day meeting package (snack and lunch).

]]>
World Bank Moots Stronger Strategic Focus on Climate Action https://sdgcenter.unpad.ac.id/world-bank-moots-stronger-strategic-focus-on-climate-action/ Mon, 09 Jan 2023 05:28:46 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37635 A draft document suggests the bank will broaden its “twin goals” of boosting prosperity and ending extreme poverty to encompass climate action.

A storm-damaged road in Mozambique (Photo: World Bank/Sarah Farhat)

By 

The World Bank is considering making climate action more central to its mission, according to a draft “evolution roadmap” drawn up by bank staff.

The 20-page document, dated 18 December and seen by Climate Home, says the bank will “broaden” beyond its current “twin goals” of ending extreme poverty and boosting shared prosperity.

Its new mission “will emphasize the importance of sustainability and resilience to reflect more clearly that our mission includes global public goods (GPGs), such as climate change”.

It suggests changing rules so the bank lends more of its money, switching focus from the world’s poorest countries to more polluting middle-income ones and factoring climate vulnerability into its borrowing criteria.

Why was this roadmap drawn up?

The World Bank Group committed $88 billion in the 2022 fiscal year, of which it classed $31.7bn (36%) as climate finance. It has not excluded fossil fuels from its portfolio and provided $1.7bn to oil and gas sector in 2021.

The bank was set up after the second world war and its traditional mission has been to tackle extreme poverty and promote economic growth. It is based in the USA and the US government is its biggest shareholder.

In recent years, the prime minister of Barbados Mia Mottley has led a push to reform the bank and the International Monetary Fund to integrate climate considerations in their goals.

Last year, the US, Germany and other governments backed this agenda, calling on the bank to launch “fundamental reform”.

“Too little, too slow”

Mottley’s adviser Avinash Persaud told Climate Home today that this roadmap does not go far enough.

“It sets out the right destination,” he said, “but I don’t think it’s a roadmap to getting there” as it is “too little, too slow” and “too close to business as usual”.

He said that the roadmap spends too much energy defending the bank’s current climate policies to the governments that make up the bank’s shareholders.

A group of UN-appointed experts recently advised that multilateral development banks like the World Bank need to triple their climate finance within the next five years.

Persaud said: “If you’re running a business and you need to do 300% more, you can’t simply go to every division and say I need you all to try a little bit harder, you need a different approach. You need different mechanisms. You need different divisions.”

This criticism was echoed by NRDC climate finance analyst Joe Thwaites. He told Climate Home: “It’s a disappointing combination of navel gazing and finger pointing. Rather than grapple with the ambitious reforms needed to confront the unprecedented crises the world faces, they’re trying to kick the issue into the bureaucratic long grass. Shareholders shouldn’t stand for this.”

The bank’s president David Malpass has been under fire from environmentalists after casting doubt on climate science last year.

Persaud said “people would love to blame the head” but “it’s not easy for any institution to reform itself”. He said governments should be drawing up the roadmap and leading the reforms not the bank itself.

The bank might lend more

National governments have pushed recently to change the rules of multilateral lenders like the World Bank to release more money.

The bank’s roadmap partly endorses this, proposing “further optimising the balance sheet” and a “review of [the World Bank-linked International Bank for Reconstruction and Development’s] minimum equity-to-loan ratio to assess feasibility for a moderate reduction to enhance the efficiency of capital utilization”.

However, it says the bank will try and keep its AAA credit rating. This rating is set by rating agencies and allows the bank to borrow money cheaply. The bank fears lending out too much money could endanger this rating.

Persaud agreed that the bank should not reduce its AAA-rating but added “the experts are saying that there is a tremendous amount of additional lending that is possible without reducing the AAA rating”. He said the bank’s proposals were “too tentative”.

More money for middle-income countries

As it aims to tackle extreme poverty, the bank has traditionally focussed on the world’s poorest countries.

But the roadmap points out that these countries are responsible for just 2% of global greenhouse gas emissions. Low and middle-income countries are together responsible for 60% of emissions.

The document says: “A focus on global challenges might also require revisiting the emphasis on income per capita… as countries with higher income per capita.. .are essential partners to achieve progress on [global public goods] (e.g., on carbon emissions).”

To encourage emissions reductions in middle-income countries, the roadmap proposes scaling up the global public good fund of the International Bank for Reconstruction and Development, the World Bank’s lending arm.

Middle income countries like China could access climate finance through this. But wealthy governments are likely to need to contribute more to it so that it can be scaled up.

More money for climate vulnerables

Whether a country is eligible for World Bank finance is judged partly on how much it needs the funds. This is currently evaluated on how poor the country is.

The roadmap proposes measuring needs partly on vulnerability to the impacts of climate change.

This would make it easier for climate-threatened nations which aren’t among the world’s poorest, like the Maldives, to access World Bank funds.

But where will the money come from?

The World Bank gets its money by borrowing on the international capital markets. It can do so very cheaply because lots of governments back it.

But the money it got from governments in 2018 has not allowed it to borrow enough to deal with all the global crises since then.

These include, the roadmap says, the Covid-19 pandemic, Russia’s invasion of Ukraine and the climate crisis.

As a result, the document predicts, World Bank support will start to fall in the July 2023 to July 2024 fiscal year.

The bank “will need substantial additional financial capacity to respond to a more ambitious, updated mission”.

This will require a “concerted effort” by the bank’s management and the governments which make up its shareholders.

The roadmap has been sent to shareholders and will be presented to the board of governors in the coming weeks.

The bank’s management will then report to its development committee at the World Bank spring meeting and then prepare a paper for endorsement at its autumn meeting.

 

]]>
Sekolah Valuasi Gelombang VI | EEI-Indonesia & SDGs Center Universitas Padjadjaran https://sdgcenter.unpad.ac.id/sekolah-valuasi-gelombang-vi-eei-indonesia-sdgs-center-universitas-padjadjaran/ Thu, 05 Jan 2023 04:19:48 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37631 Terima kasih atas antusias bapak/ibu yang sudah mendaftar Sekolah Valuasi Gelombang VI yang diselenggarakan oleh EEI-Indonesia dan SDGs Center Universitas Padjadjaran pada 27-28 Januari 2023.

Kami masih mereview 762 pendaftar oleh karena itu jadwal pengumuman peserta terpilih yang semula hari ini 1 Januari 2023 diundur menjadi 6 Januari 2023 🙏

Terima kasih atas perhatian bapak/ibu. Silahkan menunggu informasi selanjutnya dari kami ya 🙏

]]>
Kegiatan analisis Social Return on Investment PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus pada tahun 2022 https://sdgcenter.unpad.ac.id/kegiatan-analisis-social-return-on-investment-pt-pertamina-patra-niaga-regional-jatimbalinus-pada-tahun-2022/ Fri, 30 Dec 2022 13:48:39 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37627 Tanggung jawab sosial atau biasa disebut social corporate responsibility (CSR) menjadi sebuah kewajiban bagi perusahaan, termasuk di sektor migas. Pada pasal 74 Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dijelaskan bahwa tujuan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) ini adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi komunitas setempat dan masyarakat pada umumnya maupun perseroan itu sendiri dalam rangka terjalinnya hubungan perseroan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat.

Selanjutnya, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2012 tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan perseroan terbatas menyatakan bahwa setiap perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Perseroan yang telah berperan dan melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan dapat diberikan penghargaan oleh instansi yang berwenang. Sebaliknya perseroan yang tidak melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Menurut PP Nomor 47 Tahun 2012, tanggung jawab sosial dan lingkungan dimaksudkan untuk:

1)      Meningkatkan kesadaran perseroan terhadap pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan di Indonesia

2)      Memenuhi perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan

3)      Menguatkan pengaturan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan sesuai dengan kegiatan Perseroan yang bersangkutan.

 

Pada tahun 2022, SDGs Center Universitas Padjadjaran menjadi pihak yang menganalisis Social Return on Investment (SROI) pada 5 perusahaan yang ada di PT. Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus. Diantaranya adalah 1) PT. Pertamina Patra Niaga Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Ngurah Rai, Bali; 2) PT. Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Surabaya; 3) PT. Pertamina Patra Niaga DPPU Juanda; 4) PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban; 5) PT. Pertamina Parta Niaga Fuel Terminal Tanjung Wangi Banyuwangi.

Wawancara community development officer (CDO) perusahaan dilakukan untuk menggali lebih banyak informasi terkait CSR yang telah dilakukan dan akan dilakukan. selain itu pertemuan dengan pihak CDO juga ditujukan untuk menjadwalkan interview dengan masyarakat dan komunitas yang terlibat dalam CSR.

Hampir seluruh stakeholder didatangi dan diwawancarai untuk mengidentifikasi peran masing-masing. Lalu juga diidentifikasi mengenai dampak yang mereka rasakan. Dampak-dampak yang telah diidentifikasi selanjutnya dianalisis nilai monetisasinya. Nilai monetisasi ini dihitung berdasarkan dampak yang dirasakan selama satu tahun.

 

]]>
Sekolah Valuasi Gelombang VI https://sdgcenter.unpad.ac.id/sekolah-valuasi-gelombang-vi/ Mon, 26 Dec 2022 14:07:02 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37623

Sekolah Valuasi bertujuan untuk mengenalkan berbagai metode untuk mengestimasi nilai ekonomi dari sumber daya alam atau jasa ekosistem yang penting dan berperan dalam berbagai aspek kehidupan.

Materi yang disampaikan: Gambaran Umum Teknik Valuasi Ekonomi; Kerangka Cost Benefit Analysis (CBA); Travel Cost Method; Hedonic Model; Contingent Valuation Method; Choice Modeling; Cost of Illness; Productivity Method; Benefit Transfer. Materi akan disampaikan dalam bentuk berbagai studi kasus yang relevan.

Didukung oleh para ahli di bidang valuasi ekonomi yang mempunyai latar belakang pendidikan, pelatihan, dan pengalaman bertahun-tahun dalam riset internasional tentang valuasi ekonomi.

Tempat terbatas, tidak dipungut biaya
Transportasi & akomodasi ditanggung penyelenggara
Pedaftaran: https://bit.ly/SekValVI paling lambat 30 Desember 2022
Peserta terpilih akan dihubungi 1 Januari 2023

]]>
Duta Kampus SDGs Universitas Padjadjaran Mendapatkan Penghargaan Kategori Inspirasi dalam Kompetisi Duta Kampus SDGs Indonesia 2022 https://sdgcenter.unpad.ac.id/duta-kampus-sdgs-universitas-padjadjaran-mendapatkan-penghargaan-kategori-inspirasi-dalam-kompetisi-duta-kampus-sdgs-indonesia-2022/ Thu, 22 Dec 2022 07:19:40 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37588 Pada acara konferensi tahunan TPB/SDGs Indonesia Tahun 2022 pada tanggal 2 Desember 2022, ditetapkan penghargaan secara simbolis bagi para penerima penghargaan kompetisi Duta Kampus SDGs. Penghargaan ini ditetapkan berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan juri terhadap berbagai aspek terutama kesesuaian SDGs pada program dan kegiatan Duta Kampus SDGs Indonesia tahun 2022. 

Terdapat 18 Perguruan tinggi yang memperebutkan lima kategori yaitu inspirasi, inovasi, implementasi, sosialisasi, dan apresiasi.  Duta Kampus SDGs Universitas Padjadjaran yaitu Raden Fabian Mochamad Hasanudin dan Nashatra Malicca menerima penghargaan Kategori inspirasi yang bisa disebut juga dengan kategori umum.

Diwawancarai secara online (19/12/202), Fabian (Agribisnis Unpad-2020) menjelaskan bahwa pendidikan SDGs di Unpad dilakukan dalam masa Tahap Persiapan Bersama (TPB) sangat membantu mahasiswa dalam memahami apa itu Sustainable Development Goals. Nashatra Mallica (Psikologi Unpad-2021) menambahkan, tidak hanya materi mengenai SDGs, namun mahasiswa juga diberikan tugas project yang berkaitan dengan SDGs, sehingga dapat lebih mudah memahami apa itu SDGs. 

Menurut Fabian, alasan atau motivasi mengikuti Seleksi Duta Kampus SDGs adalah karena diamanahkan oleh kampus setelah sebelumnya terpilih menjadi Putra-Putri Padjadjaran 2022 kategori Favorit. Hal ini juga didukung dengan adanya S.K. Rektor. Dengan perspektif pribadi, Mallica yang juga seorang influencer menjelaskan alasannya. Adapun motivasi Mallica mengikuti seleksi tersebut karena sebagai influencer, Mallica ingin berkontribusi lebih besar lagi salah satunya dapat mewakili Unpad dalam ajang nasional maupun internasional. Menurut Mallica “kita influencer bisa menginfluence baik atau buruk, aku ingin meng influence orang ke arah kebaikan di isu pendidikan dimana generasi muda dapat berkontribusi lebih salah satunya mewakili kampus”.   

Dalam SDGs Award 2022, mereka membawa beberapa usulan dengan empat topik yaitu 1) Perubahan iklim,  2) Kekerasan seksual, 3) Kesehatan mental, dan 4) Keadilan bagi penyandang disabilitas. Dalam pelaksanaannya, Duta Kampus SDGs akan berkolaborasi dengan beberapa stakeholder di lingkungan Unpad. Pelaksanaannya akan dilakukan dalam periode 2023-2024. 

Keempat topik tersebut dituangkan dalam empat program kerja utama yaitu:  

  1. All for one, one for all.  (SDG 4) untuk dapat memastikan setiap orang penyandang disabilitas dapat mengenyam pendidikan di Universitas Padjadjaran dengan nyaman dan setara 
  2. Honor uphold humanity (SDG 5, 10, 11, dan 16) 
  3. We are here to hear (SDG 3 dan 4), proker ketiga ini dapat berupa podcast dan pengenalan fasilitas konseling seperti peer counselor. 
  4. Action for pollution (SDG 13 dan 7) program kerja seperti bersepeda, penggunaan panel surya, dan air hujan yang ditampung untuk digunakan kembali (recycle). 

Untuk mendukung program kerja dan memotivasi mahasiswa unpad lainnya. Terdapat pesan baik dari Fabian maupun Mallica. berikut ini pesan dari kedua mahasiswa tersebut. 

Pesan dari Fabian 

“Untuk rekan-rekan mahasiswa jangan takut untuk memulai aksi, kami juga mulai dari nol bahkan yang tadinya tidak saling kenal. Kami melakukan brainstorming ide sehingga mendapatkan penghargaan ini. Terkait sustainable, teman-teman yang sudah mempelajari sustainable baik di mata kuliahnya, itu sangat relate/ berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Oleh karena itu perlu ditingkatkan pengetahuan mengenai sustainability. Saya juga mengajak teman-teman di Unpad dapat membantu program kerja yang telah kami canangkan sehingga dapat tercipta kolaborasi di masa yang akan datang”. 

Pesan dari Mallica

“Dunia sudah memberikan apa-apa yang kita butuhkan, oleh karena itu kita perlu menjaganya. Sebagai mahasiswa kita bisa berkontribusi lebih dengan mengikuti program-program kemahasiswaan seperti Duta Kampus SDGs ini. Kita perlu bersama-sama melakukan kebaikan bukan sendiri-sendiri. Seperti  quotes “we cannot do great things, but we can do small things with great love” (Mother Teresa)” . 

 

Sekali lagi selamat bagi Duta Kampus SDGs Universitas Padjadjaran yang telah mendapatkan penghargaan Kategori Inspirasi dalam program Kompetisi Duta Kampus SDGs Indonesia tahun 2022. Semoga dapat menginspirasi mahasiswa lainnya.

]]>
Knowledge Sharing Sessions Pelaksanaan TPB/SDGs Program Kemitraan Indonesia dan JICA https://sdgcenter.unpad.ac.id/knowledge-sharing-sessions-pelaksanaan-tpb-sdgs-program-kemitraan-indonesia-dan-jica/ Wed, 14 Dec 2022 03:34:26 +0000 https://sdgcenter.unpad.ac.id/?p=37573 Sejak tahun 2017-2022, Kementerian PPN/Bappenas menjalin kemitraan dengan Japan
International Cooperation Agency (JICA) dalam upaya penguatan pelaksanaan TPB/SDGs di tingkat pusat dan daerah melalui peningkatan kapasitas dan pelaksanaan berbagai studi termasuk aspek pembiayaan TPB/SDGs. Selain itu, program kemitraan juga mencakup peningkatan kapasitas daerah dalam perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi TPB/SDGs bekerjasama dengan beberapa SDGs Center di Indonesia.

Semua pihak harus memiliki visi yang sama yaitu no one left behind dalam 3 aspek yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Salah satu prioritas utama adalah revitalisasi desa juga hubungan dengan industri lokal. Kita memiliki strategi global dalam melakukan revitalisasi desa menyangkut kota, orang dan pekerjaan. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan:
1. Kegiatan promosi revitalisasi
2. Membentuk contoh model dari organisasi lokal
3. Membuat platform supaya masyarakat bisa terlibat secara aktif
4. Promosi keuangan revitalisasi
Berdasarkan nilai KPI terjadi peningkatan, itu artinya pemerintah sangat memperhatikan revitalisasi desa. Salah satu kegiatannya adalah dekarbonisasi. Issue yang dihadapi adalah mempertahankan social welfare. Dimulai dengan mencari masalah di daerah, kemudian memformulasi (masyarakat dan pemerintah) untuk sama-sama menyelesaikan masalah tersebut melalui platform dengan system keanggotaan. Munculah project detail antara pemerintah dengan masyarakat.

Adanya penghargaan kepada pebisnis daerah yang membantu pencapaian SDGs secara konkrit dengan syarat sebagai berikut:
1. Harus ada kerja sama antara lembaga keuangan dan pemerintah untuk memberikan
bantuan seperti support loan SDGs
2. Dukungan dari local bussines dalam melakukan resolusi penyelesaian masalah yang
membantu pencapaian SDGs Setelah programnya berjalan, akan ada monitoring dalam melihat beberapa aspek seperti kebermanfaatan, ketercapaian tujuan, keberlanjutan, pengaruh di lapangan, transparansi, dan efektivitas, serta tiga aspek tambahan lain seperti originalitas, output dan outcome.

Beberapa kesimpulan yang dapat disampaikan diantaranya adalah:
1. Pembangunan siklus otonomi yang baik bisa terlaksana.
2. Pemerintah daerah diharapkan dapat memfasilitasi pembangunan berkelanjutan di
daerah.
3. Lembaga keuangan di daerah berharap untuk dapat berkontribusi menciptakan sklus
otonomi yang baik.

]]>