SDGs untuk “Kita” Semua

on
513
views

Sebelum memasuki tahap implementasi kebijakan-kebijakan untuk pencapaian SDGs, yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah memahami secara menyeluruh tentang SDGs. Hal ini dikarenakan masih banyak khalayak umum yang belum mengerti SDGs atau ada juga sebagian orang yang masih berfikir tentang MDGs.

Hal-hal tersebut disampaikan oleh Prof. Armida S. Alisjahbana, Direktur SDGs Center UNPAD, dalam acara seminar nasional bertajuk “Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia: Konsep, Target dan Strategi Implementasi”, yang diselenggarakan oleh SDGs Center UNPAD pada 17 April 2018 di Jakarta. Acara tersebut juga bertepatan dengan peluncuran buku yang disusun oleh Prof. Armida S. Alisjahbana dan Dr. Endah Murniningtyas (Co-chair of the Independent Group of Scientists for Global Sustainable Development Report 2019) dengan judul yang sama. Selain peluncuran buku, agenda lain dalam acara ini adalah diskusi panel. Yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut adalah Dr. Bayu Krisnamurthi (Institute Pertanian Bogor), Prof. Arnold Tukker (Director of the Institute of Environmental Sciences, Leiden University) dan Dr. Endah Murniningtyas.

Buku ini bertujuan untuk “memasyarakatkan” SDGs ke khalayak umum dan memberikan kesan bahwa SDGs untuk kita semua”, ujar Armida.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Prof. Emil Salim dalam sambutan kuncinya menyampaikan bahwa SDGs merupakan tugas kita bersama. Tugas di sini adalah bagaimana dapat menyeimbangkan ketiga pilar pembangunan berkelanjutan, yakni sosial, ekonomi dan lingkungan. Dan yang tidak kalah penting adalah pendekatan untuk ketiganya harus dilakukan secara bersama dan simultan, tidak boleh ada ego sektoral.

Dalam paparannya, Bayu menyampaikan bahwa terdapat dua phenomena menarik dengan kehadiran SDGs. Pertama, SDGs menjadi bahasa universal dalam menjelaskan konsep pembangunan berkelanjutan. Sebelumnya, sangat sulit untuk berbicara tentang konsep pembangunan berkelanjutan terutama pada masyarakat umum. Kedua, dengan kehadiran SDGs, isu pembangunan berkelanjutan mendadak menjadi ketertarikan banyak pihak, yang sebelumnya bahkan tidak pernah bersentuhan dengan topik ini.

Sementara itu, Arnold fokus memaparkan tentang SDGs ke-12, yakni Sustainable Consumption and Production (SCP). Dalam hal pencapaian tujuan ini, pendekatan yang harus dilakukan adalah pendekatan “do more with less”. Maksudnya adalah kita jangan terperangkap dengan pandangan umum tentang cara-cara meningkatkan kualitas kehidupan, misalnya meningkatkan pendapatan setinggi-tingginya agar dapat meningkatkan tingkat konsumsi dan produksi. Namun, yang tidak disadari adalah hal ini hanya akan berujung pada meningkatnya tingkat emisi dan sampah yang dapat tercipta. Sebaiknya kita mendorong pengurangan penggunaan sumber daya, sehingga residu dari konsumsi dan produksi yang tercipta dapat diminimalisir.

Terakhir, Endah mencoba mengingatkan kembali bahwa sebenarnya konsep pembangunan berkelanjutan yang saat ini secara formal didefinisikan menjadi SDGs, merupakan proses sejarah yang panjang. Sejarah mencatat bahwa formulasi konsep ini pertama kali dicoba pada tahun 1972 dalam UN Stockholm conference. Selain itu, perlu disadari juga bahwa akan selalu ada pilihan yang sulit dan membutuhkan pengorbanan dalam implementasi SDGs. Namun, rule of thumbs yang dapat digunakan adalah keputusan-keputusan yang diambil harus memiliki benefit yang paling besar dan memiliki pengorbanan yang paling tidak sulit.

Seminar nasional tersebut ditutup oleh sambutan dari Prof. Bambang Brodjonegoro, Kepala BAPPENAS. Ia menyampaikan bahwa pencapaian SDGs pada 2030 merupakan pekerjaan rumah bersama. Perlu ada sinergi bersama dalam mencapai SDGs di Indonesia karena esensi implementasinya harus bersifat multi-dimensional dan tidak ego-sektoral.