Kemiskinan di Indonesia dalam Perspektif Komparatis

on
1864
views

Selama kurun waktu lebih dari 40 tahun pembangunan, dari 1970-an sampai sekarang, kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan yang cukup berarti. Bandingkan misalnya di awal tahun 1970-an dimana lebih dari 60% penduduk Indonesia masuk kategori miskin, dengan kondisi di tahun 2018 (Maret) dimana hanya 9.82% penduduk Indonesia yang miskin.

Walaupun demikian ada beberapa isu penting sebelum kita terbuai dengan statistik tersebut. Pertama, tingkat kemiskinan tersebut dihitung dengan menggunakan standar garis kemiskinan nasional sebesar rata-rata Rp 400.000 per orang per bulan, yang kalau diekuivalenkan dengan standard internasional sebenarnya tidak jauh dari garis kemiskinan ekstrim sebesar PPP$1.9 per kapita per hari.

Bank Dunia sendiri mempunyai standar yang relatif lebih manusiawi yaitu sebesar PPP$3.2 per hari yang sering dikenal sebagai garis kemiskinan moderat. Dengan standar ini, tingkat kemiskinan di Indonesia adalah 31% di tahun 2016.

Kedua, walaupun proporsi penduduk miskin hanya dibawah 10%, proporsi penduduk Indonesia yang hampir miskin juga besar sekali. Misalnya, kalau batas hampir miskin itu adalah 1.2 kali garis kemiskinan, maka proporsi penduduk yang miskin dan hampir miskin meningkat menjadi dua kali proporsi penduduk miskin. Ini masalah serius karena artinya hanya dengan sedikit gejolak saja dalam ekonomi, orang-orang yang hampir miskin ini bisa mudah terjatuh ke jurang kemiskinan.

Baru-baru ini (2017), Bank Dunia merilis laporan berjudul “Riding the waves: The East Asian Miracle in the 21st century“. Dalam laporan tersebut, Bank Dunia mengelompokkan penduduk di setiap negara kedalam 5 kelompok: miskin ekstrem, miskin moderat, rentan, secure, dan kelas menengah (Lihat Tabel 1). Bank Dunia menghitung untuk tahun 2015. Hasilnya untuk Indonesia cukup mengkhawatirkan.

Dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, dengan tingkat kemiskinan ekstrim sebesar 7.5%, maka Indonesia hanya lebih baik dari Laos. Bahkan Cambodia hanya 0.7%. Thailand dan Malaysia sudah mencapai zero extreme poverty.

Kemudian, sama seperti kondisi kemiskinan ekstrim, dibandingkan dengan negara ASEAN lain, dengan proporsi miskin moderat sebesar 24.6%, kembali Indonesia hanya lebih baik dari Laos. Dengan demikian, tingkat kemiskinan Indonesia (gabungan antara ekstrim dan moderat) lebih tinggi dibandingkan Cambodia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam.

Malaysia sudah hampir 100%, rakyatnya sejahtera (kategori secure dan kelas menengah), Thailand hampir 90% sejahtera, dan Vietnam – negara yang belum selama Indonesia merdeka – mendekati 70%, hanya 32% rakyat Indonesia masuk ke kategori itu. Ini bahkan lebih kecil dibandingkan bahkan Cambodia (35.6%). Tak bisa dipungkiri, Indonesia jauh tertinggal.

Tabel 1. Persentase kelompok ekonomi di negara-negara ASEAN tahun 2015

Ketiga, laju pengurangan kemiskinan semakin lama semakin kecil. Kalau di periode 1970-an ke akhir 1990-an setiap tahun tingkat kemiskinan berkurang sebesar 1.9%, dari tahun 2002 ke 2017 misalnya, tingkat kemiskinan hanya berkurang sebesar 0.5% tiap tahunnya. Ini mengkhawatirkan karena diramalkan, jika tren ini berlanjut, target zero poverty, dari agenda tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) di tahun 2030 tidak akan tercapai.

Salah satu argumen untuk mencari penjelasan dari melambatnya laju penurunan kemiskinan ini adalah argumen the last mile problem yang menyatakan bahwa sudah sewajarnya penurunan kemiskinan akan lebih pelan jika tingkat kemiskinan sudah relatif rendah. Ketika tingkat kemiskinan masih sangat tinggi, relatif sangat mudah menguranginya, ketika tingkat kemiskinan sudah cukup rendah semakin susah untuk menguranginya.

Argumen diatas bermasalah dari setidaknya dua sisi. Pertama, seberapa rendah tingkat kemiskinan yang wajar mengalami masalah last mile? Apakah 11% yang dialami sekarang di Indonesia masuk kategori itu? Jika iya, apa yang menjadi dasarnya?

Kedua, apakah sulitnya tingkat kemiskinan untuk menurun, setelah tingkat tertentu tercapai, dihadapi juga oleh negara-negara lain yang pernah atau sedang mengalami masalah yang sama seperti di Indonesia? Untuk menjawab ini, mari kita lihat  Gambar 2 dibawah yang datanya bersumber dari Bank Dunia.

Data pada Gambar 2 tersebut,  menggambarkan tingkat kemiskinan moderat dengan standar internasional (PPP$3.1 per orang per hari yang kalau di rupiahkan untuk tahun 2016 sekitar Rp 13.000) agar bisa diperbandingkan antar negara. Dalam gambar tersebut, disandingkan data untuk Indonesia dan untuk empat negara ASEAN lainnya, yaitu Thailand, Malaysia, Vietnam dan Kamboja. Gambar 2 menunjukkan perkembangan tingkat kemiskinan tersebut dari tahun 1981 sampai tahun 2015.

Gambar 2. Tingkat kemiskinan moderat di Indonesia, Malaysia, Vietnam, Thailand 1981-2015 (Bank Dunia)

Gambar 2 diatas memberikan kita beberapa catatan penting. Pertama, masalah last mile nampaknya tidak dialami oleh Thailand dan Malaysia. Setelah tingkat kemiskinan-nya lebih kecil dari 10%, pengurangan kemiskinan tetap terjadi. Ini berlanjut hingga tingkat kemiskinan moderat mereka hampir hilang. Perlu dicatat, gambar ini menunjukkan tingkat kemiskinan moderat. Tingkat kemiskinan ekstrim kedua negara tersebut sudah mendekati nol saat ini.

Kedua, Indonesia relatif tertinggal dengan ketiga negara yang menjadi perbandingan. Tingkat kemiskinan kita saat ini, misalnya, sama dengan tingkat yang sama di Vietnam di tahun 2009 dan tahun 1992 di Thailand.

Sementara itu, Gambar 3 menunjukkan fakta yang lebih menarik. Pada Gambar tersebut, kondisi Indonesia, Thailand dan Vietnam disandingkan, tetapi sumbu horisontal dari grafik tersebut bukan menunjukkan tahun tapi menunjukkan pendapatan per kapita. Nampak bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia pada tahun 2016 setara dengan tingkat kemiskinan di Thailand tahun 1990-1992 pada tingkat pendapatan per kapita Thailand yang lebih rendah.

Gambar 3. Pendapatan per kapita dan kemiskinan (Bank Dunia)

Sementara itu tingkat kemiskinan Indonesia ditahun 2016 setara dengan Vietnam sekitar tahun 2008-2010 bahkan pada tingkat pendapatan per kapita Vietnam yang hanya 42% pendapatan per kapita Indonesia saat ini.

Sebagai penutup, fakta-fakta diatas setidaknya menyimpulkan dua hal. Pertama, perkembangan historis di negara-negara ASEAN tidak mendukung argumen bahwa kemiskinan sangat susah untuk dientaskan jika tingkat kemiskinan sudah cukup rendah (last mile problem). Jika kita mengalami perlambatan dalam pengurangan kemiskinan, tidak ada alasan kuat bahwa itu terjadi secara alamiah. Kedua, kekuatan pertumbuhan ekonomi dalam mengurangi kemiskinan kita relatif rendah. Setidaknya jika Thailand dan Vietnam menjadi perbandingan, pendapatan per kapita yang kita capai saat ini harusnya mampu diikuti dengan tingkat kemiskinan yang jauh lebih kecil.

Tulisan ini juga dipublikasikan sebagai satu bab dengan judul yang sama dalam Yusuf, Arief Anshory (2018), Keadilan untuk Pertumbuhan, UNPAD Press, Bandung.