Formulasi Kebijakan Transportasi Harus Memperhitungkan Dampak Sosial dan Lingkungan

on
68
views

Co-benefits atau manfaat tambahan terhadap lingkungan dan sosial merupakan aspek yang krusial untuk dipertimbangkan dalam memformulasikan kebijakan-kebijakan di sektor transportasi. Dengan demikian, manfaat yang ditimbulkan oleh kebijakan-kebijakan di sektor transportasi memiliki efek pengganda yang besar terhadap sektor-sektor lainnya.

Point-point di atas merupakan kesimpulan dari workshop yang bertajuk “Aligning Climate Mitigation and Air Pollution Control in Indonesia’s Transport Sector: Making the Link with Co-benefits”. Acara tersebut diselenggarakan oleh IGES (Institute for Global Environmental Strategies), pada 13 December 2017 di Jakarta.

Dr. Zuzy Anna, Deputy Director SDGs Center UNPAD, menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut. Ia mengatakan “tidak dapat dipungkiri bahwa kebijakan-kebijakan transportasi di kota-kota besar saat ini, seperti moda transportasi masal, Car Free Day (CFD) dan pembuatan jalur-jalur pedestrian, terbukti dapat memberikan benefit tambahan bagi lingkungan dan sosial.”

Namun, Ia menambahkan bahwa tidak kalah penting juga untuk melakukan analisis mendalam untuk mengukur Co-benefits yang ditimbulkan dari kebijakan-kebijakan di sektor transportasi, khususnya dalam kaitannya terhadap mitigasi dampak lingkungan dan polusi udara. Hal ini dikarenakan Co-benefits yang ditimbulkannya banyak yang bersifat non-market goods/services.

Transportasi merupakan sektor yang memiliki keterkaitan luas dengan aspek-aspek lingkungan dan sosial, sehingga diperlukan analisis cost dan benefit yang komprehensif untuk dapat membantu membuat kebijakan-kebijakan yang efisien dan bermanfaat bagi semua pihak.