Femisme dan Pemberdayaan Perempuan

on
145
views

Seringkali istilah “feminisme” disalahartikan orang, mulai dari isu penyamarataan gender, hingga sering disangka lesbian. Padahal, hakikat dari feminisme bukanlah seperti apa yang selama ini menjadi anggapan orang-orang.

Hal tesebut disampaikan oleh Prof. Aquarini Priyatna, guru besar dalam kajian gender dan ilmu sastra di Universitas Padjadjaran dalam Seminar Academic Leadership Grant (ALG) yang diselenggarakan oleh SDGs Center UNPAD (13/11/2019). Acara yang dipandu oleh Prof. Zuzy Anna selaku Direktur Eksekutif SDGs Center UNPAD ini mengambil tema Subjective Wellbeing: Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan.

Bagi Prof. Aquarini hakikat dari feminisme adalah sebuah gerakan atau ideologi yang melihat bahwa ada ketidakadilan atau ketimpangan dalam struktur budaya sosial manusia. Dalam hal tersebut, orang-orang feminis melihat ketimpangan itu sebagai sebuah ketidakadilan dari suatu sistem, lalu mengambil posisi sebagai penentang. Dengan kata lain, feminisme adalah posisi ideologis terhadap ketimpangan yang secara umum merugikan perempuan, tetapi pada prinsipnya merugikan laki-laki juga.

“Di indonesia sendiri dikenal dengan budaya patriarki, yakni sistem dengan kekuasaan utama terletak pada laki-laki, misalnya laki-laki yang menjadi pemimpin dan pencari nafkah utama bagi seorang keluarga. Kenyataannya sekarang tidak semuanya laki-laki menjadi pencari nafkah utama. Bagaimanapun juga dalam konstruksi perkawinan kita yang sekarang banyak terjadi adalah, laki-laki yang menjadi superior,” ungkap Prof. Aquarini.

Lebih lanjut Prof. Aquarini menegaskan bahwa dirinya tidak setuju jika feminisme dianggap sebagai aksi kaum perempuan yang berjuang ingin melebihi laki-laki. Namun, feminisme lebih pada menyeimbangkan perlakuan yang sama antara laki-laki dan perempuan, juga perlakuan yang berbeda jika ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dialami oleh perempuan itu sendiri.

Dalam suatu kehidupan rumah tangga, suami diibaratkan sebagai seorang “kapten” untuk menjalankan kehidupan. Namun seorang kapten tentunya harus mau mendengar pendapat bawahannya, dalam hal ini adalah istrinya, sehingga kapten tersebut tidak menjadi seorang kapten yang otoriter. Oleh karena itu, feminisme bukan bermaksud untuk melebihi laki-laki tapi untuk menjadikan suatu perkawinan merupakan sebuah proyek mutual yang dilakukan bersama.

”Tidak ada salahnya apabila seorang istri pun berprestasi, toh atribusinya juga untuk keluarga juga. Seorang suami juga bila berprestasi atribusinya juga untuk keluarga juga”.

Acara dilanjutkan dengan tanya jawab yang melibatkan lebih dari 50 peserta. Selengkapnya kegiatan seminar ALG tersebut dapat disaksikan melalui akun youtube SDGs Center Universitas Padjadjaran.

Download E-Certificate: https://tinyurl.com/SDGfeminisme