Saturday, April 21, 2018

Individual and Household Wellbeing

Kontribusi Wanita Nelayan Dalam Upaya Pemenuhan Kebutuhan Ekonomi Keluarga Nelayan Di Muara Angke Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara (2017)

By Krishna Listiyandra, Zuzy Anna & Yayat Dhahiyat

Abstract:

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi wanita nelayan terhadap pendapatan di Muara Angke serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi wanita nelayan bekerja dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan wanita nelayan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan satuan kasusnya adalah kontribusi wanita nelayan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode triangulasi (observasi, wawancara, dan dokumentasi). Untuk penentuan sampel digunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel adalah 30 sampel. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan rata-rata kontribusi wanita nelayan terhadap pendapatan di Muara Angke sebesar 30,25%. Faktor yang mempengaruhi wanita nelayan bekerja diantaranya pendidikan dan motivasi bekerja. Faktor usia tidak mempengaruhi wanita nelayan bekerja. Adapun faktor yang mempengaruhi pendapatan wanita nelayan diantaranya curahan waktu kerja dan jenis pekerjaan. Rata-rata curahan waktu kerja wanita nelayan untuk kegiatan produktif adalah 148,63 jam per bulan atau sekitar 5,72 jam per hari. Curahan waktu kerja dan jenis pekerjaan berpengaruh positif terhadap pendapatan wanita nelayan masing-masing sebesar 16,3% dan 13,5%. Faktor pengalaman bekerja tidak berpengaruh terhadap pendapatan wanita nelayan.

For further information click here

Analisis Pendapatan Masyarakat Pesisir Di Kawasan Wisata Bahari Pantai Pandawa Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung Provinsi Bali (2017)

By Gmelina Asri Muara Bagja, Zuzy Anna & Nia Kurniawati

Abstract:

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kelayakan usaha pembudidaya rumput laut dan pekerja wisata bahari di Pantai Pandawa, (2) menganalisis variabel/faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat pesisir dan (3) menganalisis perbandingan kesejahteraan antara pembudidaya rumput laut dan pekerja wisata bahari berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Badung tahun 2016. Penelitian dilakukan di Pantai Pandawa Desa Kutuh Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung Provinsi Bali pada Bulan Mei 2016. Metode yang digunakan yaitu studi kasus. Analisis yang digunakan yaitu analisis keuntungan, Benefit Cost RatioPay Back Periods, regresi linear berganda dan Analisis tingkat kesejahteraan. Hasil yang didapatkan untuk kelayakan usaha masyarakat pesisir yaitu pembudidaya rumput laut dengan nilai BCR = 2 berarti usaha budidaya rumput laut yang dilakukan mengalami keuntungan dan layak untuk diusahakan, untuk pekerja wisata bahari nilai BCR = 3,41 maka usaha wisata bahari sangat layak untuk dijalankan dan mengalami keuntungan. Selanjutnya variabel/faktor yang mempengaruhi terhadap pendapatan masyarakat peisisir yaitu ada umur, tingkat pendidikan terakhir, curahan waktu kerja dan pengalaman kerja dilihat secara keseluruhan berpengaruh terhadap pendapatan, namun hasil dari Uji t secara parsial, profesi dan  pengalaman kerja berpengaruh nyata terhadap pendapatan, untuk umur, tingkat pendidikan terakhir dan curahan waktu kerja tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan. Untuk profesi yang berpengaruh yaitu sebagai pembudidaya rumput laut, berpengaruh secara negatif terhadap pendapatan artinya akan mengurangi terhadap pendaptan sebesar 9139854.843 dibandingkan usaha wisata bahari karena pendapatan uasaha wisata bahari lebih besar dibandingkan pembudidaya rumput laut. Perbandingan kesejahteraan masyarakat pesisir antara pembudidaya rumput laut dan pekerja wisata bahari dari hasil penelitian menghasilkan bahwa responden yang bekerja sebagai wisata bahari jauh lebih banyak yang sejahtera yaitu sebanyak 77% sedangkan untuk pembudidaya rumput laut yang berstatus sejahtera sebanyak 50%.

For further information click here

The switch to refillable bottled water in Indonesia: a serious health risk (2017)

By Ahmad Komarulzaman, Eelke de Jong & Jeroen Smits

Abstract:

In recent years, the consumption of refillable bottled water has increased considerably in emerging countries. However, the quality of this water is often questionable, as authorities lack the capacity to properly check refilling depots. Given that refillable bottled water not only replaces unimproved water sources, but also better-quality sources, like piped and branded bottled water, its increasing use poses a major health risk. We investigate the motives behind the decision to switch to refillable bottled water in Indonesia. Findings indicate that this switch is driven by lifestyle motives, as well as by cost and availability considerations. It is mostly the young affluent households who switch from piped and ‘other’ sources to refillable bottled water. In rural areas, the tendency to make this switch is negatively affected by availability problems and the higher price of refillable bottled water. Availability and cost also influence the switch from branded bottled to refillable bottled water, but here it is the poorer households who have a higher propensity to switch. Further exploration of the lifestyle motive and affordability issues, as well as better monitoring of the refilling depots, are needed to improve the quality of drinking water in Indonesia and other emerging countries.

For further information click here

Clean water, sanitation and diarrhoea in Indonesia: Effects of household and community factors (2017)

By Ahmad Komarulzaman, Jeroen Smits & Eelke de Jong

Abstract:

iarrhoea is an important health issue in low- and middle-income countries, including Indonesia. We applied a multilevel regression analysis on the Indonesian Demographic and Health Survey to examine the effects of drinking water and sanitation facilities at the household and community level on diarrhoea prevalence among children under five (n = 33,339). The role of the circumstances was explored by studying interactions between the water and sanitation variables and other risk factors. Diarrhoea prevalence was reported by 4820 (14.4%) children, who on average were younger, poorer and were living in a poorer environment. At the household level, piped water was significantly associated with diarrhoea prevalence (OR = 0.797, 95% CI: 0.692–0.918), improved sanitation had no direct effect (OR = 0.992, 95% CI: 0.899–1.096) and water treatment was not related to diarrhoea incidence (OR = 1.106, 95% CI: 0.994–1.232). At the community level, improved water coverage had no direct effect (OR = 1.002, 95% CI: 0.950–1.057) but improved sanitation coverage was associated with lower diarrhoea prevalence (OR = 0.917, 95% CI: 0.843–0.998). Our interaction analysis showed that the protective effects of better sanitation at the community level were increased by better drinking water at the community level. This illustrates the importance of improving both drinking water and sanitation simultaneously.

For further information click here