Beberapa Akademisi UNPAD Menawarkan Solusi Terkait SDGs

on
283
views

Kunci utama dari pencapaian SDGs adalah adanya solusi-solusi terobosan yang bersifat implementatif dan pastinya harus berbasiskan kajian ilmiah. Hal ini dikarenakan SDGs memiliki cakupan yang sangat luas dan bersifat universal. Seperti yang kita ketahui bersama, SDGs memiliki tujuan yang cukup banyak, yakni terdiri dari 17 tujuan, di mana masing-masing tujuannya saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Demikian pidato pembuka yang disampaikan oleh Prof. Armida S. Alisjahbana, Direktur SDGs Center UNPAD, dalam seminar bertajuk “SDGs Solutions”. “Mengingat vital-nya solusi terobosan dalam pencapaian SDGs, SDGs Center UNPAD akan menjadi corong bagi para akademisi untuk mensosialisasikan hasil penelitiannya mengenai solusi-solusi pencapaian SDGs”, ujar Armida.

Acara tersebut diselenggarakan pada 22 Mei 2018 di Executive Lounge UNPAD Dipati Ukur dan merupakan bagian dari kegiatan seminar rutin SDGs Center UNPAD. Terdapat empat pembicara yang memaparkan hasil kajiannya terkait solusi pencapaian SDGs, yakni Dr. Efrin Mardawati (FTIP UNPAD), Dr. Rudi Saprudin (FISIP UNPAD), Dr. Novi Mayasari (FAPET UNPAD) dan Dr. Robi Andoyo (Deputy Director SDGs Center UNPAD).

Dr. Efrin Mardawati (FTIP UNPAD)

Dr. Efri memaparkan tentang peran bio-refinery pertanian di Indonesia dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030. Bio-refinery mengacu pada teknis memproses bahan-bahan biologis, khususnya di sini adalah limbah pertanian dan pertanian, untuk menghasilkan energi biomassa. Ia berpendapat bahwa bio-refinery dapat menjadi solusi dalam penyediaan energi nasional dan melepas ketergantungan terhadap impor bahan-bahan konsumsi dan produksi yang kebanyakan bersifat primer. Sebagai contoh, saat ini Indonesia masih melakukan 100% impor terhadap xylitol, yang menjadi bahan baku utama pembuatan gula. Padahal, xylitol sendiri dapat dihasilkan dari proses alami bio-refinery.

Dr. Rudi Saprudin (FISIP UNPAD)

Sementara itu, Dr. Rudi bercerita tentang hasil studinya mengenai peran kelembagaan dalam mitigasi bencana di Indonesia, dengan studi kasus Kab. Gowa dan Kab. Bojonegoro. Ia menyampaikan terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam kesuksesan mitigasi bencana. Pertama, keberhasilan upaya penanganan bencana menekankan pada koordinasi dan kerjasama yang baik antar lembaga, baik yang bersifat pemerintahan maupun yang non-pemerintahan seperti LSM. Kedua, masyarakat harus ikut dilibatkan. Masyarakat harus diedukasi tentang bencana di tempat tersebut, mulai dari potensi hingga cara-cara menyelamatkan diri. Terakhir adalah pendekatan mitigasi bencana harus mengakomodir dan mengindahkan budaya dan kearifan lokal setempat di mana bencana terjadi.

Dr. Novi Mayasari (FAPET UNPAD)

Di sisi lain, Dr. Novi memberikan paparan tentang peningkatan produktivitas dan kekebalan alami sapi perah melalui manajemen produksi dan pakan yang berkelanjutan. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa produksi susu di Indonesia saat ini masih sangat rendah, relatif bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Padahal, susu ini merupakan sumber asupan makanan yang sangat kaya akan gizi. Terdapat dua solusi yang ia tawarkan dalam rangka meningkatkan produksi susu tanah air. Pertama, meningkatkan good farming practices. Para petani harus diedukasi mengenai cara beternak sapi perah yang sesuai dengan kaidah-kaidah scientific. Contoh paling sederhana adalah tidak memerah susu sapi ketika sapi sedang hamil, karena dapat memperburuk kesehatan sapi (imunitas menurun). Kedua, terus bereksperimen dalam mencari pakan yang paling baik bagi sapi. Studi terbaru menemukan bahwa tanaman Indigofera sp merupakan pangan yang baik bagi sapi karena memiliki kandungan biomassa tinggi, protein tinggi, kalsium tinggi, magnesium tinggi dan rendah tanin. Dan yang paling penting tanaman ini sangat mudah dan cocok dibudidayakan pada iklim Indonesia.

Dr. Robi Andoyo (Deputy Director SDGs Center UNPAD)

Terakhir, Dr. Robi menyampaikan tentang pemanfaatan produk samping industri olahan susu sebagai pangan darurat dalam menanggulangi penurunan status gizi anak di daerah rawan bencana. Permasalahan utama ketika bencana adalah makanan yang layak, dalam artian mengandung gizi yang baik. Oleh karena itu, Robi melakukan riset untuk menghasilkan makanan siap santap (ready to eat) yang mengandung gizi tinggi, khususnya protein. Produk makanan ini dibuat dari olahan susu yang dicampurkan dengan umbi jalar.