Optimalisasi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) untuk Pembangunan Berkelanjutan

Di tengah isu-isu kerusakan lingkungan, seperti perubahan iklim, pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) menjadi sebuah keniscayaan agar pembangunan yang berkelanjutan dapat terwujud. Diperlukan kebijakan yang bersifat strategis, menyeluruh dan konsisten dalam pengembangan EBT, mengingat nilai investasi dan harga yang tidak murah.

Hal-hal tersebut merupakan catatan-catatan penting di dalam seminar internasional bertajuk Climate Change and the Development of Renewables and industries: From Strategy to Policy”, yang diselenggarakan oleh SDGs Center UNPAD, pada 6 februari 2018. Yang menjadi pembicara di dalam seminar tersebut adalah Yuan Xu, Ph.D., associate professor di The Chinese University of Hong Kong, dan Ir. Nur Pamudji, M.Eng., mantan direktur utama PT. PLN (2011/14) yang kini menjadi konsultan energi dan kelistrikan di Indonesia. Selain itu, jalannya seminar dipandu oleh Ahmad Komarulzaman, Ph.D., Deputy Director SDGs Center UNPAD.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, sumber penyediaan energi, terutama untuk kelistrikan, negara-negara di dunia telah mulai bergeser ke arah EBT, di mana Tiongkok menjadi salah satu negara yang paling serius dalam hal ini. Yuan mengatakan bahwa dalam hal pembangkit listrik tenaga angin dan surya, Tiongkok menjadi negara dengan kapasitas tertinggi di dunia, mengalahkan negara-negara maju lainnya, seperti Jerman, Jepang dan Amerika Serikat. Investasi pemerintah yang tinggi dan kebijakan-kebijakan yang memberikan insentif pihak swasta, seperti feed-in-tariff dan pembelian lisensi teknologi, dinilai menjadi faktor-faktor utama yang menyebabkan keberhasilan transformasi energi di Tiongkok tersebut.

Di sisi lain, Nur Pamudji menyampaikan bahwa meskipun kontribusinya masih sangat rendah, potensi EBT di Indonesia sesungguhnya sangat besar dan tersebar di seluruh daerah, Strategi pengembangan EBT di Indonesia harus dibedakan untuk setiap wilayah, hal ini mengingat setiap wilayah memiliki potensi EBT yang berbeda. Misalnya, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) akan sangat cocok dikembangkan di Pulau Sulawesi yang notabene memiliki potensi angin yang sangat tinggi di Indonesia, daripada Pulau Jawa misalnya.

Terakhir, ia menambahkan bahwa Indonesia dapat mendapatkan pembelajaran dari negara-negara lain, khusunya Tiongkok, dalam hal pengembangan EBT. Formulasi kebijakan dan strategi untuk mengoptimalkan potensi EBT harus bersifat spesifik terhadap sumber energi yang tersedia di wilayah tertentu, fasilitatif terhadap investasi swasta dan harus konsisten, terlepas dari pergantian rezim pemerintahan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *