Indonesia, WIPO, dan SDGs

Pada tanggal 29 Juni 2016, SDGs Center Unpad menghadiri undangan acara Jaring Masukan: Kontribusi WIPO untuk Pencapaian SDGs oleh Kementerian Luar Negeri di Hotel Akmani, Jakarta.

World Intellectual Property Organization (WIPO) adalah salah satu badan khusus yang ada di United Nations (UN). WIPO didirikan pada tahun 1967 untuk mendorong aktivitas kreatif, untuk mempromosikan perlindungan kekayaan intelektual di seluruh dunia. Hingga saat ini terdapat 188 negara anggota WIPO, termasuk Indonesia.

Pada tahun 2007, negara anggota WIPO menyetujui WIPO Development Agenda. Salah satu hasil rekomendasi yang dihasilkan adalah disetujuinya pembentukan Committee on Development and Intellectual Property (CDIP). Pada pertemuan CDIP ke 17 di Geneva, Swiss terjadi perdebatan antara negara maju dan negara berkembang menanggapi dokumen Mapping of WIPO Activities Related to the Sustainable Development Goals (SDGs) Implementation (CDIP/17/8). Sehubungan dengan perdebatan tersebut, maka WIPO memberikan kesempatan untuk negara anggotanya memberikan masukan tertulis kepada Sekretariat sebelum tanggal 10 Juli 2016.

Berangkat dari hal tersebut, maka Kementerian Luar Negeri mengundang berbagai stakeholders, baik dari pihak pemerintahan, akademisi, serta LSM untuk menghadiri acara Jaring Masukan: Kontribusi WIPO untuk Pencapaian SDGs sebagai sarana untuk mendapatkan masukan terkait WIPO dan SDGs. Pada kesempatan ini terdapat 4 orang pembicara yaitunya: Bapak Razilu (Kementerian Hukum dan HAM), Ibu Wahyuningsih Darajadi (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Bapak Toferry P. Soetikno (Kementerian Luar Negeri), Pak Tejo Wahyu Jatmiko (Aliansi untuk Desa Sejahtera), dan dimoderatori oleh Pak Adi Dzulfuat, Kasubdit Standardisasi, HKI dan Penyelesaian Sengketa, Kementerian Luar Negeri

Bapak Razilu, Sekretaris Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM menyampaikan latar belakang berdirinya WIPO dan menjelaskan kegiatan WIPO di Indonesia. Indonesia secara resmi bergabung pada tahun 1979, 12 tahun setelah WIPO resmi berdiri dan Indonesia telah meratifikasi setidaknya 7 traktat yang dikelola oleh WIPO: WIPO Convention, Berne Convention, Paris Convention, Patent Cooperation Treaty, Trademark Law Treaty, WIPO Copyright Treaty, dan WIPO Performers and Phonogram Treaty. Kedepannya Indonesia juga akan meratifikasi Marrakesh Visually Impaired Persons (VIP) Treaty dan Beijing Treaty on Audiovisual Performances. Disamping itu Indonesia juga akan mengaksesi Madrid Protokol terkait merek dan Hague Agreement terkait desain industri.

Menurut Pak Rizalu, setidaknya terdapat 7 Goals yang sangat terkait dengan program dan kegiatan WIPO, disamping Goals 9 dan 17 yang merupakan sasaran yang terkait dengan mandat dan tujuan strategis WIPO. Ketujuh Goals tersebut adalah: Goals 2 (target 2.a), Goals 3 (target 3.3 dan 3.b), Goals 4 (target 4.a), Goals 7 (target 7.a dan 7.b), Goals 8 (target 8.2 dan 8.3), Goals 12 (target 12.a), dan Goals 13 (target 13.1, 13.2 dan 13.3).

29 Juni 2016 - SDGs Center Unpad Kemenlu Jaring Masukan Kontribusi WIPO SDGs 2

Para pembicara memaparkan materinya.

Ibu Wahyuningsih Darajati dari Bappenas mengawali presentasinya mengenai Sustainable Development Goals (SDGs) atau yang dalam bahasa Indonesianya adalah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang merupakan kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. Setidaknya ada tujuh poin yang membuat SDGs lebih sempurna dibandingkan dengan MDGs:

  1. Lebih komprehensif karena proses penyusunan SDGs melibatkan banyak negara dengan tujuan yang universal baik untuk negara maju maupun negara berkembang;
  2. Sumber pendanaan untuk SDGs menjadi lebih luas karena pihak swasta juga dilibatkan disamping sumber pernanaan dari negara maju;
  3. SDGs menekankan pada hak asasi manusia sehingga tidak ada lagi diskriminasi dalam penanggulangan kemiskinan dan dimensi lainnya;
  4. SDGs lebih inklusif, memastikan tidak ada yang tertinggal dibelakang (no-one left behind) dan secara spesifik juga menyasar kepada yang rentan;
  5. SDGs juga melibatkan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, organisasi masyarakat sipil dan media, filantropi dan bisnis, serta pakar dan akademisi;
  6. MDGs hanya menargetkan pengurangan “setengah”, sedangkan SDGs menuntaskan semuanya, “Zero Goals“; dan
  7. SDGs tidak hanya memuat Goals (Target), tetapi juga Cara Pelaksanaan (Means of Implementation).

Lebih lanjut, Ibu Wahyuningsih juga memaparkan pokok arahan Presiden Jokowi pada sidang kabinet tanggal 23 Desember 2015 untuk mengoptimalkan peran Bappenas dalam pencapaian SDGs mengingat hampir seluruh target SDGs telah terakomodir di RPJMN, 108 dari total 169 target telah secara spesifik ada di RPJMN. Presiden juga meminta Bappenas untuk melibatkan semua pihak, baik pemerintah, parlemen, organisasi masyarakat sipil dan media, filantropi dan bisnis, serta para pakar dan akademisi untuk bersinergi sesuai dengan peran, fungsi dan kemampuan masing-masing pihak. Dan terakhir, Presiden juga menekankan agar kelembagaan yang ada untuk dapat langsung bekerja, baik secara strategis maupun operasional.

Disamping itu, Ibu Wahyuningsih juga menyebutkan beberapa kegiatan yang sudah dan sedang dilakukan oleh Bappenas seperti: (i) Pertemuan dengan seluruh pemangku kepentingan, (ii) Workshop dengan Prof. Jeffrey Sachs tentang TPB, (iii) Workshop dan sosialisasi TPB Regional di Wilayah Barat (Surabaya, 23-24 Mei 2016) dan di Wilayah Timur (Makassar, 30-31 Mei 2016), (iv) Penyusunan Draft Pedoman Teknis Rencana Aksi Nasional (RAN) TPB, dan (v) Penyusunan Draft Definisi Operasional Indikator TPB.

Ibu Wahyuningsih juga menyebukan beberapa kegiatan yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat terkait dengan TPB, seperti: (i) Finalisasi Draft Pedoman Teknis Rencana Aksi Nasional (RAN) TPB, (ii) Penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) TPB, (iii) Penysunan Draft Pedoman Rencana Aksi Daerah (RAD) TPB, (iv) Penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) TPB, (v) Fasilitasi penyusunan RAD TPB, (vi) Workshop dan sosialialisasi lanjutan bagi provinsi yang belum hadir di acara TPB Regional, (vii) Penyusunan Draft Pedoman Monitoring dan Evaluasi TPB, (viii) Lanjutan pertemuan dengan para pemangku kepentingan, (ix) Penyusunan Road Map (Peta Jalan) TPB 2016-2030, dan (x) Penyusunan Strategi Komunikasi dan Advokasi.

Terkait dengan kekayaan intelektual, Ibu Wahyuningsih mencatat setidaknya terdapat 12 target/indikator yang potensial mendorong inovasi di bidang teknologi, yaitu: target 3.b, target 8.2, target 9.4, indikator 9.5.1, target 9.a, target 9.b, indikator 12.a.1, indikator 14.a.1, indikator 15.6.1, indikator 17.6.1, target 17.7, dan target 17.8.

Pak Toferry P. Soetikno, Direktur Pembangunan, Ekonomi dan Lingkungan Hidup, Kementerian Luar Negeri membagi peran WIPO dalam implementasi SDGs kedalam tiga peran: (i) peran langsung sebagai regulator dan pelaksana kebijakan seperti yang tercantum pada target SDGs 2.5, 3.b, 8.2, 9.a-c, 15.6, dan Goals 17, (ii) peran intermediary dimana kebijakan WIPO dapat mempengaruhi implementasi SDGs seperti yang tertuang pada target 3.b, 5.b, 9.4, 11.6, 13.1, dan 14.3, dan (iii) peran WIPO untuk bekerjasama dengan badan/organisasi lainnya, mengacu kepada target 2.a, 3.b, 6.b, 7.a, 9.5, 11.c, 12.a, dan 14.a.

Pembicara terakhir, Pak Tejo Wahyu Jatmiko, selaku perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat menuturkan bahwa setidaknya terdapat tujuh tantangan terkait tata kelola dalam pencapaian SDGs di Indonesia:

  1. Payung hukum,
  2. Strategi dan perencanaan.
  3. Kelembagaan dan Koordinasi.
  4. Sistem data.
  5. Akuntabilitas.
  6. Peran pemerintah daerah, dan
  7. Partisipasi publik.

Lebih lanjut Pak Tejo juga menyampaikan bahwa masyarakat, CSO’s dan pemerintah juga perlu memahami SDGs secara mendalam sehingga jangan sampai SDGs dipandang sebagai agenda internasional dan dianggap hanya milik pemerintah.

Terkait dengan kontribusi Hak Atas Kekayaan Individu (HAKI) dalam pencapaian SDGs, Pak Tejo mencatat bahwa hampir semua Goals memiliki target yang berhubungan dengan HAKI.
Tujuan 1: Target 1.3/1.4/1.a/1.b
Tujuan 2: Target 2.3/2.4/2.5/2.a
Tujuan 3: Target 3.2/3.3/3.4/3.5/3.6/3.7/3.8/3.9/3.b/3.c/3.d
Tujuan 4: Target 4.7/4.b
Tujuan 5: Target 5.b
Tujuan 6: Target 6.3/6.a
Tujuan 7: Target 7.3/7.a/7.b
Tujuan 9: Target 9.1/9.3/9.4/9.5/9.a/9.b/9.c
Tujuan 11: Target 11.4/11.5/11.a/11.b/11.c
Tujuan 12: Target 12.1/12.2/12.4/12.5/12.6/12.a/12.b
Tujuan 13: Target 13.3/13.b
Tujuan 14: Target 14.2/14.4/14.5/14.a
Tujuan 15: Target 15.1/15.2/15.3/15.4/15.5/15.c
Tujuan 17: Target 17.6/17.7/17.8/17.16/17.17/17.18

Materi presentasi dapat diunduh pada link berikut:

Link terkait:

Laporan ditulis oleh Yangki Imade Suara.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *